Rektor IAIN, Belajarlah pada Imam Malik

Diposting oleh On Tuesday, October 25, 2016 with No comments

REKTOR IAIN Ternate, Abdurrahman Marasabessy dan tiga penguji yang menguji tesis Bahrain Kasuba di atas kapal Halsel Expres, memang menimbulkan pertanyaan besar. Ada apa seorang Rektor dan sejumlah maha guru menguji mahasiswa bukan di kampus tapi di atas kapal yang merupakan fasilitas pemerintah.
Bahrain disebut-sebut menempuh pendidikan S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate hanya satu bulan langsung ujian tesis. Sudah begitu, Bahrain bukan ujian di kampus sebagaimana layaknya mahasiswa, tetapi ia diuji Rektor IAIN Abdurrahman Marasabessy dan tiga penguji lain di atas KM Halsel Expres dalam perjalanan menuju Pulau Widi.
Bahrain bersama dosen penguji dan rombongan menuju Pulau Widi, salah satu destinasi wisata di Halmahera Selatan menggunakan fasilitas pemerintah daerah. Perlakukan Rektor IAIN Ternate terhadap mahasiswa ini patut dipertanyakan, apakah IAIN dalam kondisi tidak steril atau dalam kondisi darurat.
Sebagai contoh, SBY semasa menjadi Presiden menempuh ujian di kampus IPB Bogor. Sementara IAIN ‘menjual harga dirinya’ dengan menguji seorang bupati yang difasilitasi di atas kapal pemerintah daerah menuju tempat wisata.  “Mereka melakukan ujian di atas kapal Halsel Expres, ini adalah bentuk ‘pelacuran’ petinggi kampus IAIN. Jadi perlu revoluasi mental terhadap Rektor IAIN dan beberapa penguji yang menguji Bahrain di atas kapal,” tegas pemerhati pendidikan Kifli Sahlan, Senin (24/10).
Sekedar ilustrasi, dalam sebuah kisah Imam Malik (714 M-795 M) dan Khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (766 M-809 M) yang hidup pada jaman yang sama. Imam Malik tinggal di Madinah sedang Harun Al Rasyid di Baghdad, namun nama besar Imam Malik telah membangkitkan hasrat keilmuwan sang Khalifah. Sehingga dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah,  Harun Al Rasyid berkeinginan mengikuti ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik.
Sebagaimana kebiasaan saat itu, Khalifah mengutus seseorang untuk memanggil Imam. Namun Imam Malik menolak. Alasannya, sedang mengadakan kajian ilmu.  “Aku tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan pribadi.  Bila Khalifah ingin mengikuti kajian, silahkan datang,  ketahuilah, manusia yang mencari ilmu.  Sementara ilmu tidak akan mencari manusia,” ujar Khalifah.
Imam Malik kemudian menutup kata-katanya.“Sampaikan kepada Khalifah, bahwa ‘Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran Hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai Khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi.”
Jawaban Imam Malik membuat Harun Ar Rasyid beserta putranya terpaksa hadir ke majelis.  Ketika Khalifah  memasuki majlis, Imam Malik sekali lagi memberi nasihat tegas.  “Hendaknya duduk di manapun tempat tersedia, jangan lancang melangkahi pundak orang-orang.”
Alhasil Harun Ar Rasyid dan putra putranya duduk ditempat yang masih tersisa saat itu.  Jauh dari sang Imam. Sang Khalifah duduk berbaur bersama rakyat kebanyakan, rakyat yang dipimpinnya sendiri.  Begitulah seharusnya adab seseorang  terhadap guru.  Apapun jabatan sang murid, seorang guru harus diletakkan diatas, bukan dibawah. (srd)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »