REKTOR
IAIN
Ternate, Abdurrahman Marasabessy dan tiga penguji yang menguji tesis Bahrain
Kasuba di atas kapal Halsel Expres, memang menimbulkan pertanyaan besar. Ada
apa seorang Rektor dan sejumlah maha guru menguji mahasiswa bukan di kampus
tapi di atas kapal yang merupakan fasilitas pemerintah.
Bahrain disebut-sebut menempuh
pendidikan S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate hanya satu bulan
langsung ujian tesis. Sudah begitu, Bahrain bukan ujian di kampus sebagaimana
layaknya mahasiswa, tetapi ia diuji Rektor IAIN Abdurrahman Marasabessy dan
tiga penguji lain di atas KM Halsel Expres dalam perjalanan menuju Pulau Widi.
Bahrain bersama dosen penguji dan
rombongan menuju Pulau Widi, salah satu destinasi wisata di Halmahera Selatan
menggunakan fasilitas pemerintah daerah. Perlakukan Rektor IAIN Ternate
terhadap mahasiswa ini patut dipertanyakan, apakah IAIN dalam kondisi tidak
steril atau dalam kondisi darurat.
Sebagai contoh, SBY semasa menjadi
Presiden menempuh ujian di kampus IPB Bogor. Sementara IAIN ‘menjual harga
dirinya’ dengan menguji seorang bupati yang difasilitasi di atas kapal
pemerintah daerah menuju tempat wisata. “Mereka
melakukan ujian di atas kapal Halsel Expres, ini adalah bentuk ‘pelacuran’
petinggi kampus IAIN. Jadi perlu revoluasi mental terhadap Rektor IAIN dan
beberapa penguji yang menguji Bahrain di atas kapal,” tegas pemerhati
pendidikan Kifli Sahlan, Senin (24/10).
Sekedar ilustrasi, dalam sebuah kisah
Imam Malik (714 M-795 M) dan Khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (766
M-809 M) yang hidup pada jaman yang sama. Imam Malik tinggal di Madinah
sedang Harun Al Rasyid di Baghdad, namun nama besar Imam Malik
telah membangkitkan hasrat keilmuwan sang Khalifah. Sehingga dalam sebuah
kunjungan ke kota Madinah, Harun Al Rasyid berkeinginan mengikuti
ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik.
Sebagaimana kebiasaan saat itu, Khalifah mengutus
seseorang untuk memanggil Imam. Namun Imam Malik menolak.
Alasannya, sedang mengadakan kajian ilmu. “Aku tidak dapat mengorbankan
kepentingan umum hanya untuk kepentingan pribadi. Bila Khalifah ingin mengikuti
kajian, silahkan datang, ketahuilah, manusia yang mencari ilmu.
Sementara ilmu tidak akan mencari manusia,” ujar Khalifah.
Imam Malik kemudian
menutup kata-katanya.“Sampaikan kepada Khalifah, bahwa ‘Rasyid, leluhur Anda selalu
melindungi pelajaran Hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai Khalifah Anda tidak
menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi.”
Jawaban Imam Malik membuat
Harun Ar Rasyid beserta putranya terpaksa hadir ke majelis. Ketika Khalifah memasuki
majlis, Imam Malik sekali
lagi memberi nasihat tegas. “Hendaknya duduk di manapun tempat tersedia,
jangan lancang melangkahi pundak orang-orang.”
Alhasil Harun Ar Rasyid dan putra
putranya duduk ditempat yang masih tersisa saat itu. Jauh dari sang Imam. Sang Khalifah duduk berbaur
bersama rakyat kebanyakan, rakyat yang dipimpinnya sendiri. Begitulah
seharusnya adab seseorang terhadap guru. Apapun jabatan sang murid,
seorang guru harus diletakkan diatas, bukan dibawah. (srd)
