JAKARTA-Direktur
Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid berharap
unsur-unsur sejarah lokal dapat dimunculkan dan diperkuat melengkapi pendidikan
sejarah di sekolah-sekolah, sehingga menjadi lebih spesifik secara geografis.
"Elemen lokal menjadi penting, kami
berharap unsur sejarah lokal dapat dimunculkan dan diperkuat," kata
Hilmar, dalam acara penutupan Konferensi Nasional Sejarah ke-10 (KNS X), di
Jakarta, Kamis (10/11).
Konferensi tersebut telah membahas 100
makalah tentang berbagai aspek sejarah maritim dari seluruh Indonesia. Hilmar
berpendapat langkah pembahasan sejarah kebaharian secara nasional tersebut
harus ditindaklanjuti dengan konferensi-konferensi di tingkat regional untuk
membahas mengenai temuan di daerah.
Temuan-temuan di tingkat regional
tersebut dapat digunakan untuk membantu perumusan kawasan-kawasan historis
secara cermat, sekaligus mewujudkan pendidikan sejarah yang spesifik secara
geografis.
"Misalnya Kepulauan Nusa Utara yang
merupakan kawasan pulau-pulau di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara
sebenarnya satu kawasan secara historis, tetapi selama ini pada acara tingkat
nasional kurang muncul sebagai studi kasus, ini yang perlu didalami di tingkat
daerah," ujar Hilmar lagi.
Dia juga menjelaskan mengenai sejarah
awal mula perdagangan rempah nusantara yang dimulai dari Pulau Run, Banda,
Maluku Tengah yang kurang mendapatkan perhatian dalam pendidikan sejarah. "Kesadaran
geografi semacam ini perlu dikembalikan, sehingga peserta didik bisa mengenal
lebih baik," katanya pula.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam acara pembukaan KNS ke-10
mengatakan konferensi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga kalangan
generasi muda terhadap sejarah Indonesia.
KNS merupakan konferensi sejarah yang
diselenggarakan setiap lima tahun sekali, dan pada tahun ini diselenggarakan
pada 7 hingga 10 November 2016 dengan mengangkat tema "Budaya Bahari dan
Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perspektif Sejarah".
KNS merupakan forum berkumpul para
sejarawan, dosen, guru, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat peminat sejarah
untuk membahas berbagai aspek isu strategis kesejarahan, baik yang berkaitan
dengan pembangunan karakter bangsa, pengajaran sejarah maupun perkembangan ilmu
sejarah. KNS X menampilkan 100 pemakalah, terdiri dari 40 pemakalah undangan
dan 60 pemakalah melalui mekanisme seleksi.
(ant)
