![]() |
| ilustrasi |
MOROTAI-Ketua
Federasi Olaharaga Karatedo Indonesia (Forki) Maluku Utara, Amin Drakel
dilaporkan ke Polisi dengan tuduhan penganiayaan terhadap sejumlah karateka
asal Pulau Morotai. Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Ternate Selatan, namun
tak pernah diproses. Padahal sejumlah karateka asal Morotai mengalami luka.
Menurut Riniyanti,
Koordinator Pencak Silat Morotai, kronologi penganiyaan bermula saat kejuaraan
Pencak Silat yang digelar tiga hari di Ternate beberapa waktu lalu. Kegiatan
yang dibuka gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba itu dinilai penuh dengan
kecurangan oleh panitia dan wasit.
Peserta
Morotai yang berpeluang menang dikalahkan wasit. Namun saat dikomplen wasit
yang didatangkan dari Jakarta, Sense Donal tak digubris. Sense saat
pertandingan kata Riniyanti hanya main HP, tidak melihat jalannya pertandingan.
Saat ditunjukkan video, Sense malah mengatakan, di Maluku Utara susah
mengundang wasit yang netral.
Penjelasan
Sense membuat Riniyanti tak puas. Ia lantas melaporkan hal ini kepada Ketua
Forki Maluku Utara, Amin Drakel melalui telepon. Dibalik telepon, Amin meminta
Riniyanti supaya mengkoordinasikan kepada panitia karena saat itu Amin masih
berada di toko pakaian.
Riniyanti
kepada Amin mengatakan, wasit harus dua aliran dan Morotai terakhir mengikut Kejurda
karena permainan penuh kecurangan. Ia pun kembali berkoordinasi dengan panitia
dan wasit, namun tak ditanggapi. Kesal tak dilayani, Riniyanti meminta uang
kontingen dikembalikan, karena seluruh peserta akan ditarik mengundurkan diri
dari Kejurda.
Beberapa menit
kemudian lanjutnya, dua wasit meminta maaf dan mengaku pertandingan sudah
diatur sehingga tak netral. Berselang beberapa menit mengobrol dengan dua
wasit, sebuah mobil open cup warna merah jenis Hilux bernomor Polisi DG 9409
yang dikemudian Berti penuh dengan barang-barang jualan.
Meski mendekat
parkir, mobil tancap gas nyaris menabrak Riniyanti dan beberapa peserta dari
Morotai. Seorang peserta bernama Bayu (11) melompat ke parit hingga lututnya
terluka. Meski akhirnya sang sopir mengaku hanya bercanda, namun mereka
melontarkan kata-kata kasar dan cacian.
Dengan kejadian
ini, Riniyanti dan sejumlah peserta berencana melaporkan ke Amin Drakel,
ternyata Amin berada dalam mobil bersama 7 orang lainnya. Belum sempat
melaporkan kecurangan wasit dan panita, Amin keluar dari mobil sambil banting
pintu. Amin sempat mengeluarkan bahasa bernada ancaman. Sementara beberapa
orang menganiaya peserta asal Morotai yang rata-rata masih pelajar itu.
Belum
menanyakan duduk persoalan kata Riniyanti, Amin langsung marah-marah. “Ada apa,
mau serang saya, saya bisa bunuh kamu,” kata Amin sebagaimana dituturkan
Riniyanti. beberapa diantaranya memaki dan menginjak seorang peserta bernama
Julhaji Khadam hingga terjatuh. Seorang peserta yang berusaha melerai dikeroyok
dan dipukul.
Tak puas
dengan ancaman anak buahnya lanjutnya, Amin mengancam akan menurunkan anggota
BIN, Kopasus dan masyarakat Sanana. "Mau
saya kasih turun BIN dan Kopasus. Mau saya kasih turun orang Sanana," ujar
Amin. Dengan ancaman itu, Riniyanti menarik kontingen dari Kejurda dan
melaporkan Amin ke Polsek Ternate Selatan.
Namun
Riniyanti dan anak buahnya kalah cepat. Amin Drakel lebih dulu mendatangi
Polsek dan melaporkan bahwa peserta Morotai yang lebih dulu membuat masalah.
Riniyanti mengatakan, Amin mengancam akan membunuh masyarakat Morotai di
Ternate, setelah itu menelepon Wakapolda dan mengatakan, masyarakat Morotai
yang menyerangnya.
Polisi yang
turun lokasi menindaklanjuti laporan Amin Drakel ternyata tak terbukti alias
laporan palsu. Saat ini polisi telah memeriksa saksi korban, dan malam itu juga
langsung divisum. Riniyanti mengaku, karateka asal Morotai yang mengalami luka
penganiyaan yakni Julhaji Kadham (19) korban pemukulan, Bayu (11) melompat saat
hendak ditabrak mobil, Ahmad Bayu Toani (11), Nuri (20) Laence didorong dan
terjatuh, dan M Riska Amal (20). Sayangnya, Amin Drakel belum berhasil
dikonfirmasi kebenaran berita ini. (wis)
