![]() |
| Buah kenari |
JAKARTA-Ditengah
lesunya geliat ekspor, petani kenari kesulitan mengekspor komoditasnya lantaran
belum adanya kode HS untuk kenari. Hal inilah yang sedang diupayakan oleh pemerintah
agar kode HS cepat muncul. "Ada
beberapa masukan, bukan hanya dari Kemendag tapi instansi lain tapi saya rasa
dapat kita atasi, antara lain supaya bisa ekspor kenari. HS nya belum
ada," jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta sebagaimana
dikutip Metrotvnews.com, Selasa (19/10).
Enggar mengatakan pihaknya
segera berkoordinasi dengan Direktorat Bea dan Cukai terkait HS untuk kenari. "Supaya bisa diekspor oleh petani Maluku
Utara," lanjut Enggar. Langkah
ini menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik
(BPS) Sasmito Hadi Wibowo penting untuk mendapat perhatian. Pasalnya, ekspor
nasional baik dari sektor migas maupun non migas terus mengalami penurunan.
Bahkan, BPS mencatat
ekspor pertanian Januari-September 2016 terdepresiasi 17,44 persen dibanding
total nilai periode yang sama tahun lalu. Saat ini totalnya mencapai USD2,3
miliar. Ekspor non migas sendiri mengalami depresiasi 6,09% dibanding periode
yang sama tahun lalu.
Menurut Sasmito, hal
ini terjadi lantaran pasokan yang kurang sehingga untuk beberapa komoditas
pertanian seperti coklat, pemerintah malah mengimpor. Kenari, menurut Sasmito,
merupakan komoditas dengan cita rasa eksotis yang memiliki prospek pasar baik
di negara-negara maju. "Kenari itu kan
sebetulnya kita kasih eskrim, dikasih biji kenari. Sebagai alternatif. Sifatnya
eksotik," kata Sasmito saat ditemui terpisah.
Profil kenari
menurutnya potensial untuk mengisi pasar ekspor menengah atas seperti Eropa,
Amerika dan Tiongkok. Selain potensial
memperbesar pangsa ekspor di negara maju, kenari juga bisa meningkatkan
partisipasi petani dalam perdagangan internasional. BPS mencatat selama ini
petani pengekspor mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan
Timur. (rdx)
