BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kota
Ternate, Maluku Utara, mencatat beberapa hari ini telah terjadi ratusan kali
gempa mengguncang Kabupaten Halmahera Barat dan dirasakan beberapa daerah
sekitar termasuk kota Ternate. "Seiring dengan terjadi gempa ratusan kali
tersebut, muncul isu bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami," kata Kepala
BMKG Stasiun Geofisika Ternate, Suwardi, di Ternate, Jumat (20/11).
Dia menjelaskan, data BMKG pada Rabu (18/11) lalu, gempa dengan kekuatan 2
hingga 4 skala Richter (SR) di wilayah Halmahera Barat terjadi hingga 90 kali,
dan pada Kamis (19/11) kemarin hingga pukul 11.00 WIB terjadi 109 kali gempa. Menurutnya,
gempa yang terjadi di Halmahera termasuk dalam kategori swarm atau bergerombol
yang diperkirakan akan berlangsung dalam waktu yang relatif lama, dan gempa
seperti ini sudah terjadi sekitar sebulan terakhir.
Dia menegaskan bahwa pengertian mendasar penyebab dari terjadi tsunami
adalah minimal terjadi gempa yang berkekuatan hingga 7 SR. Tsunami sendiri
dapat terjadi jika ada gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah volume
besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor mapun meteor yang
jatuh ke bumi.
Namun, 90 persen tsunami terjadi karena gempa bumi bawah laut, gerakan
vertikal pada kerak bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara
tiba-tiba yang mengakibatkan gangguan, katanya lagi. Karena itu, BMKG setempat
mengimbau masyarakat untuk tidak panik dengan isu adanya tsunami tersebut.
Gempa swarm sendiri
merupakan gempa-gempa yang terjadi pada satu lokasi tertentu, dan sering
berasosiasi dengan vulkanisme. Sempat juga sebelumnya pada Kamis (12/11),
sekitar pukul 05.18 WIB, di Halmahera Barat, kemarin juga diguncang gempa
dengan kakuatan 5 SR. Berdasarkan data dari BMKG, gempa itu berlokasi di 1.59
derajat Lintang Utara (LU), 127.21 derajat Bujur Timur (BT) pada kedalaman 60
kilometer. Namun gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan ancaman tsunami. (rol)