Standar Pendidikan Halmahera Selatan Dinilai Rendah

Diposting oleh On Friday, October 14, 2016 with No comments



JAKARTA-Dua pengajar muda yakni Rahmat Danu Andika dan Patrick Samuel yang pernah mengabdi selama satu tahun di Halmahera Selatan mengaku, standar pendidikan di Halmahera Selatan masih rendah. Keduanya merupakan bagian dari 621 pengajar muda yang sudah berpartisipasi sejak lima tahun Indonesia Mengajar berdiri memaparkan kondisi dan standar pendidikan di daerah itu.
"Saya angkatan pertama. Ketika pertama ke Halmahera Selatan, saya bisa melihat bahwa sebenarnya masyarakat di sana itu cukup bahagia. Tetapi standar pendidikan memang rendah. Dan salah satu tugas saya mengajak orangtua untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan," kenang Rahmat Danu Andika dalam diskusi pendidikan di Jakarta, Kamis (13/10).
Alumni Pengajar Muda Angkatan I Rahmat Danu Andika, dari Gerakan Indonesia Mengajar, mengakui mengubah paradigma mendidik harus dengan keras menjadi mendidik dengan metode kreatif dan menyenangkan, awalnya susah dilakukan.
Pengajar yang ditempatkan lembaga Indonesia Mengajar di Halmahera Selatan, Maluku Utara, menuturkan di desa tempatnya ditugaskan masih ditemui mengajar dengan menggunakan rotan dan kekerasan. Padahal, metode yang diterapkan oleh lembaga ini adalah mengajar dengan kreatif dan menyenangkan.
“Awalnya saya ketakutan, karena tempat saya bertugas yakni Desa Pelita, belum ada listrik dan jauh dari hiruk pikuk. Dalam desa tersebut juga hanya ada ratusan orang saja, dimana mereka saling mengenal satu sama lain dan mayoritas profesi mereka adalah nelayan dan berkebun,” ujar Dika dalam acara Kamis Bercengkrama, Kamis (13/10).
Di sana, sambungnya, setiap orang dekat dengan keluarga, makanan ada dari kebun dan sehat, tidak ada kemacetan dan menurutnya tidak ada orang yang mengalami stres di sana. "Bulan pertama saya pesimis, sepertinya mereka tidak punya permasalahan. Tetapi ternyata standar pendidikan mereka rendah,” katanya.
Menurut Dika, di desa tersebut masih ada mitos bahwa pendidikan itu tidak penting, sekolah gratis juga memiliki ekspektasi rendah. "Mengajar masih menggunakan rotan dengan kekerasan, padahal ada metode yang bisa diterapkan dengan kreatif dan menyenangkan seperti metode yang dimiliki Indonesia Mengajar," katanya.
Setelah menerapkan metode belajar kreatif, akhirnya setiap daerah memiliki kreativitas lokal yang tepat untuk dapat diterapkan sekolah-sekolah di daerah oleh para pengajar. Gerakan Indonesia Mengajar berharap Indonesia memiliki generasi pemimpin bangsa  dengan kompetensi global, namun dengan pemahaman akar rumput yang baik.
Dalam mencapai visi tersebut, Indonesia Mengajar berusaha mendorong perubahan prilaku positif dan berkelanjutan serta terlibat dalam pendidikan, memberi peluang bagi para pemuda untuk menggerakkan dan mengembangkan kemampuan memimpin serta terlibat nyata dalam kemajuan pendidikan.
Dikatakan, pendidikan mengalami transformasi dari waktu ke waktu. Adanya perkembangan teknologi yang pesat juga mampu mengubah kebiasaan pola belajar. Saat ini, berbagai informasi bisa diakses secara mudah, parktis, dan murah. Sayangnya, di tengah kemajuan zaman dan era digitalisasi, kondisi pendidikan belum merata, terutama di pelosok Tanah Air. Hal ini menimbulkan kepedulian berbagai pihak, termasuk anak-anak muda yang ingin berkontribusi memajukan pendidikan.
Pada sesi diskusi, beberapa pengajar muda dan relawan berbagi pengalaman mengenai kondisi pendidikan di daerah-daerah. Ternyata, tak semua daerah memiliki kualitas pendidikan yang memprihatinkan sebagaimana yang ada di dalam bayangan orang-orang kota.
Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono menjelaskan, masalah pendidikan tidak bisa ditarik secara umum lantaran kondisi di setiap daerah berbeda-beda. Dalam komunitas lokal, persoalan pendidikan juga identik dengan kehidupan sosial masyarakat. "Misalnya, tentang ketersediaan buku. Ada sekolah yang bukunya sudah lengkap tetapi sebenarnya kemampuan anak-anaknya kurang. Dilihat dari segi sarana-prasarana, ruang kelas, fasilitas, juga berbeda-beda," ujarnya di Kantor Indonesia Mengajar, Jakarta, Kamis (13/10).
Executive Director Indonesia Mengajar, Evi Tresna menambahkan, peran anak muda terjun langsung untuk memajukan pendidikan merupakan bentuk inisiatif. Sebab, sebelumnya semua program pendidikan berasal dari pusat. "Sekarang, guru-guru juga banyak berinisiatif. Kemajuan pendidikan suatu daerah bukan karena sebuah program, tetapi karena tumbuhnya penggerak di setiap daerah yang akan melanjutkan," sebutnya. (rdx)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »