JAKARTA-Dua pengajar muda yakni Rahmat Danu Andika dan Patrick Samuel yang pernah
mengabdi selama satu tahun di Halmahera Selatan mengaku, standar pendidikan di
Halmahera Selatan masih rendah. Keduanya merupakan bagian dari 621 pengajar
muda yang sudah berpartisipasi sejak lima tahun Indonesia Mengajar berdiri
memaparkan kondisi dan standar pendidikan di daerah itu.
"Saya angkatan pertama. Ketika
pertama ke Halmahera Selatan, saya bisa melihat bahwa sebenarnya masyarakat di
sana itu cukup bahagia. Tetapi standar pendidikan memang rendah. Dan salah satu
tugas saya mengajak orangtua untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya
pendidikan," kenang Rahmat Danu Andika dalam diskusi pendidikan di
Jakarta, Kamis (13/10).
Alumni Pengajar Muda Angkatan I Rahmat
Danu Andika, dari Gerakan Indonesia Mengajar, mengakui mengubah paradigma
mendidik harus dengan keras menjadi mendidik dengan metode kreatif dan
menyenangkan, awalnya susah dilakukan.
Pengajar yang ditempatkan lembaga
Indonesia Mengajar di Halmahera Selatan, Maluku Utara, menuturkan di desa
tempatnya ditugaskan masih ditemui mengajar dengan menggunakan rotan dan
kekerasan. Padahal, metode yang diterapkan oleh lembaga ini adalah mengajar
dengan kreatif dan menyenangkan.
“Awalnya saya ketakutan, karena tempat
saya bertugas yakni Desa Pelita, belum ada listrik dan jauh dari hiruk pikuk.
Dalam desa tersebut juga hanya ada ratusan orang saja, dimana mereka saling
mengenal satu sama lain dan mayoritas profesi mereka adalah nelayan dan
berkebun,” ujar Dika dalam acara Kamis Bercengkrama, Kamis (13/10).
Di sana, sambungnya, setiap orang dekat
dengan keluarga, makanan ada dari kebun dan sehat, tidak ada kemacetan dan
menurutnya tidak ada orang yang mengalami stres di sana. "Bulan pertama
saya pesimis, sepertinya mereka tidak punya permasalahan. Tetapi ternyata
standar pendidikan mereka rendah,” katanya.
Menurut Dika, di desa tersebut masih ada
mitos bahwa pendidikan itu tidak penting, sekolah gratis juga memiliki ekspektasi
rendah. "Mengajar masih menggunakan rotan dengan kekerasan, padahal ada
metode yang bisa diterapkan dengan kreatif dan menyenangkan seperti metode yang
dimiliki Indonesia Mengajar," katanya.
Setelah menerapkan metode belajar
kreatif, akhirnya setiap daerah memiliki kreativitas lokal yang tepat untuk
dapat diterapkan sekolah-sekolah di daerah oleh para pengajar. Gerakan
Indonesia Mengajar berharap Indonesia memiliki generasi pemimpin bangsa
dengan kompetensi global, namun dengan pemahaman akar rumput yang baik.
Dalam mencapai visi tersebut, Indonesia
Mengajar berusaha mendorong perubahan prilaku positif dan berkelanjutan serta
terlibat dalam pendidikan, memberi peluang bagi para pemuda untuk menggerakkan
dan mengembangkan kemampuan memimpin serta terlibat nyata dalam kemajuan
pendidikan.
Dikatakan, pendidikan mengalami
transformasi dari waktu ke waktu. Adanya perkembangan teknologi yang pesat juga
mampu mengubah kebiasaan pola belajar. Saat ini, berbagai informasi bisa
diakses secara mudah, parktis, dan murah. Sayangnya, di tengah kemajuan zaman
dan era digitalisasi, kondisi pendidikan belum merata, terutama di pelosok
Tanah Air. Hal ini menimbulkan kepedulian berbagai pihak, termasuk anak-anak
muda yang ingin berkontribusi memajukan pendidikan.
Pada sesi diskusi, beberapa pengajar
muda dan relawan berbagi pengalaman mengenai kondisi pendidikan di
daerah-daerah. Ternyata, tak semua daerah memiliki kualitas pendidikan yang
memprihatinkan sebagaimana yang ada di dalam bayangan orang-orang kota.
Ketua Yayasan Gerakan Indonesia
Mengajar, Hikmat Hardono menjelaskan, masalah pendidikan tidak bisa ditarik
secara umum lantaran kondisi di setiap daerah berbeda-beda. Dalam komunitas
lokal, persoalan pendidikan juga identik dengan kehidupan sosial masyarakat. "Misalnya,
tentang ketersediaan buku. Ada sekolah yang bukunya sudah lengkap tetapi
sebenarnya kemampuan anak-anaknya kurang. Dilihat dari segi sarana-prasarana,
ruang kelas, fasilitas, juga berbeda-beda," ujarnya di Kantor Indonesia
Mengajar, Jakarta, Kamis (13/10).
Executive Director
Indonesia Mengajar, Evi Tresna menambahkan, peran anak muda terjun langsung
untuk memajukan pendidikan merupakan bentuk inisiatif. Sebab, sebelumnya semua
program pendidikan berasal dari pusat. "Sekarang, guru-guru juga banyak berinisiatif.
Kemajuan pendidikan suatu daerah bukan karena sebuah program, tetapi karena
tumbuhnya penggerak di setiap daerah yang akan melanjutkan," sebutnya. (rdx)
