SOFIFI-Rencana
pembangunan pabrik semen Tonasa yang peletakkan batu pertama, Senin (24/10)
diwarnai kericuhan. Masyarakat Somahode menghadang mobil dinas gubernur Abdul
Gani Kasuba dan Wali Kota Tidore Kepulauan, Capten Ali Ibrahim mencegah masuk
dalam areal PT. Semen Tonasa.
Perseoalan
yang menyebabkan masyarakat menolak pembangunan pabrik semen itu lantaran,
lokasi itu masih dalam sengketa tapal batas antara desa Somahode dan desa Oba
belum selesai. Masyarakat Somahode mengklaim, lahan pembangunan pabrik semen
Tonasa masih berada di wilayah desa Somahode. Sebab itu, warga menghadang mobil
gubernur dan wali kota untuk meminta penjelasan. Sebab lahan tersebut
terindikasi diperjual belikan tanpa sepengetahuan pemilik.
Wali Kota Tidore
Kepulauan, Capten Ali Ibrahim mengatakan, Pemda sudah memproses penyelesaian
sengketa lahan yang menjadi penghambat. Ia meminta masyarakat bersabar sebab
dalam waktu dekat sudah ada penyelesaian. Ali mengaku, belum mengetahui persis keputusan
lahan itu berada di desa mana, namun ia berjanji akan ada penyelesaian.
Meski
demikian, peletakkan batu pertama pembangunan Grounbreaking Packing Plant PT.
Semen Tonasa di desa Oba Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan tetap
dilaksanakan. Selain dihadiri gubernur dan wali kota Tidore Kepulauan, Direktur
PT. Semen Tonasa Gatot Gustyaeji dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah
(Forkopimda) serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Maluku Utara.
Gubernur dalam
sambutannya mengatakan, dengan adanya packing plant di daerah ini, maka harga
semen di Maluku Utara akan terjangkau oleh masyarakat. "Saya senang adanya
packing plant di Maluku Utara, selaku gubernur saya berterima kasih kepada PT.
Semen Tonasa yang berinvestasi di daerah ini," kata gubernur.
Menurut Direktur
PT. Semen Tonasa, Gatot Kustyadji menguraikan latar belakang pembangunan packing
plant di Maluku Utara, karena trend pasar Maluku Utara demand semen rata-rata
meningkat sekitar 196.000 per tahun. Pada 2015 katanya, komsumsi mencapai 243.
324 ton per tahun. Sementara sampai bulan September 2016 sudah tersuplay
sekitar 214.785 ton dengan pertumbuhan demand rata-rata 14,1 persen per tahun
dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Sementara Market Share semen Tonasa sampai
September 2016 sekitar 63, 2 persen.
Gatot
menjelaskan, tingginya angka pertumbuhan pembangunan infrastruktur membuat
permintaan semen tonasa meningkat di provinsi Maluku Utara, sehingga
berpengaruh pada letak geografis daerah Maluku Utara yang terdiri dari
pulau-pulau kecil dan kondisi cuaca menjadi faktor yang selama ini mempengaruhi
kelancaran dan stabilitas supplay produk kepada komsumen. Hal ini
menyebabkan hilangnya peluang meningkatkan market share, diakibatkan supplay
yang kurang lancar dan biaya distribusi relatif tinggi, karena biaya kapal bag
lebih mahal dibanding kapal curah, sehingga menghilangkan peluang meningkatkan
margin penjualan.
"Ini penyebab
beban packer Biringkassi dan Makassar akan semakin berat, mengingat
keterbatasan kapasitas packer saat ini, sementara permintaan menunjukkan trend
peningkatan dari tahun ke tahun," katanya. Gatot menjelaskan, tujuan pembangunan
packing plant untuk membantu kelancaran pembangunan infrastruktrur yang
berkualitas di Kawasan Timur Indonesai (KTI) umumnya dan Maluku Utara khususnya.
Menjamin ketersedian produk sesuai kebutuhan pasar, menjamin stabilitas suplay
dan kualitas produk dan mempercepat delivery time serta menekan biaya
distribusi, jelasnya.
Diakuinya, kapasitas
packing plant ini 300 ribu ton per tahun dengan kapasitas Silo 1x6.000
ton, dengan kapasitas produksi semen bag 2.000 zak per jam dan kapasitas
produksi semen curah 120 ton per jam dengan luas lahan kurang lebih 20.000 m2.
“Nilai investasi PT. Semen Tonasa sebesar Rp.66 miliar dengan durasi
pembangunan gedung 17 bulan, sementara karyawan yang diterima 230 orang dan 20
orang karyawan operasional,” jelasnya. (ces)
