Ternate Berdarah di Hari Minggu

Diposting oleh On Monday, January 11, 2016

Salah satu korban pebenbakan
TERNATE-Dua warga Toboko, kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate meninggal dunia dalam peristiwa tawuran antar pemuda Toboko dan Kota Baru, Minggu (10/1) pagi. Tewasnya dua pemuda ini bukan karena perkelahian antara dua kubu, melainkan satu ditembak dan satu lainnya ditabrak hingga terseret dibawah mobil polisi. Sedihnya, dua korban yang tewas, mereka justeru tak terlibat tawuran. Dengan begitu, polisi pasti menggunakan alibi jitu, salah tembak dan salah tabrak. Tragis memang.
Seorang warga yang ditembak mati bernama Dedi Rizaldi Ridwan (29), warga Toboko RT 08/RW 04. Ia meninggal akibat peluru bersarang di bagian atas kening sebelah kiri saat memperbaiki tenda persiapan senam pagi. Sementara Zulkifli Hasim (23), juga warga Toboko yang berdomosili di Tanah Tinggi meninggal ditabrak hingga terseret dibawah mobil Dalmas Polres Ternate.
Sementara korban luka tembak yakni Nasrun Kusuma (46), terkena tembakan di bagian leher belakang hingga tembus. Korban saat ini masih dirawat di RSUD Hasan Boesorie Ternate. selain itu, Fadli Pison (27), warga kelurahan Toboko mengalami luka serius akibat terkena peluru tajam di bagian kaki kanan akibat dan Muhammad Fitra (15), warga kelurahan Toboko yang tertabrak mobil Dalmas Polres Ternate saat joging. Korban luka tembak kini dirawat secara intensif di RSUD Chasan Boesoeiri Ternate.

Aksi tawuran antar pemuda dua kelurahan terjadi pada Minggu (10/1) pukul 04:10 WIT dini hari. Kejadian bermula beberapa pemuda Toboko dan Kota Baru yang disinyalir sudah mabuk minuman keras saling ejek di Gang Kayu Buah perbatasan Toboko-Kota Baru. Saling ejek berlanjut hingga saling lempar botol dan batu. Aksi saling lempar berlangsung sekitar 30 menit, aparat kepolisian Polres Ternate menurunkan 1 peleton Dalmas di Tempat Kejadi Peristiwa untuk mengamankan.
Di TKP, polisi berhasil membubakar akasi saling lempar dengan tembakan peringatan maupun tembakan gas air mata. Cara ini berhasil, pemuda Toboko dan Kota Baru membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Tapi konflik kembali berlanjut di jalan baru kawasan pantai persis di jembatan satu perbatasan dua kelurahan. Di perbatasan Toboko dan Kota Baru, saling lempar menggunakan batu dan botol kembali terjadi.
Kejadian yang berlangsung kurang lebih 45 menit itu, gabungan Polsek Ternate Selatan dan 1 peleton Dalmas Polres Ternate dengan tembakan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara tak berhasil membubakarkan. Polres kembali mendatangkan 1 peleton tambahan. Kedatangan pasukan tambahan tak lagi melakukan tembakan peringatan tapi langsung menembak sasaran menggunakan peluru tajam dan mengenai beberapa warga mengalami luka tembak dan seorang meninggal dunia. Korban yang meninggal dunia bukan pelaku tawuran, tapi berada di lokasi itu memperbaiki tenda untuk kegiatan senam pagi.
Kapolres Ternate AKBP Kamal Bachtiar saat ditemui di rumah duka salah satu korban, Dedi Rizaldi Ridwan di Toboko enggan berkomentar panjang. Kapolres beralasan, datanya belum rampung baru akan menggelar konferensi pers. Kesal dengan tindakan yang dinilai anarkis, warga memlokade jalan raya mulai lampu merah Toboko hingga hingga perbatasan Mangga Dua atau persisnya di jembatan nomor dua.
Blokade jalan itu menggunakan cabang pohon dan membakar ban bekas. Di lokasi tersebut juga dipajang spanduk bertuliskan : Polisi pembunuh, warga Toboko minta Komnas HAM mengusut tuntas. Maco, warga setempat mengaku, pemblokiran jalan itu sebagai bentuk kekesalan terhadap tindakan polisi melakukan langkah pengamanan dengan menembak dan menabrak warga hingga meninggal.
Ia meminta Kapolda Brigejen Polisi Zulkarnain dan Kapolres Ternate, AKBP Kamal Bachtiar menangkap pelaku penembakan dan penabrak warga menggunakan mobil polisi diproses dengan aturan yang berlaku di kepolisian. Aksi pemblokiran jalan menyebabkan sejak sore kemarin, lokasi pertabatasan Mangga Dua dan Toboko tak bisa dilewati kendaraan. Sejumlah aparat TNI tampak berjaga-jaga di lokasi kejadian.
Wakasekjen DPP PKB, Usman Sidik mengutuk keras aksi yang dilakukan Polres Ternate yang menangani masalah tawuran dengan kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa. Ia meminta Kapolda Maluku Utara, Brigjen Zulkarnain dan Kopolres Ternate, AKBP Kamal Bachtir memproses anggotanya yang melakukan tindak kekerasan. Usman mengaku telah meminta Komnas HAM untuk menyelidiki kasus Toboko Kota Baru tersebut.
Sementara itu, penjabat walikota Ternate, Idrus Assagaf mengatakan, pasca bentrok Pemkot langsung mengambil langkah menggelar pertemuan dangan tokoh masyarakat kedua kelurahan. Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang Penjabat walikota (10/1) sore, dihadiri Kapolres Ternate AKBP. Kamal Bachtiar, Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Sigit Purwanto, Kejari Ternate Andi Muldani Fajrin dan sejumlah tokoh masyarakat dua Kelurahan.
Dalam pertemuan itu, Idrus menjelaskan Pemerintah Kota Ternate hanya memediasi kedua pihak untuk dapat menyelesaikan konflik. Menurutnya, seluruh biaya perawatan korban di RSUD Chasan Boesoeri Ternate menjadi tanggungjawab Pemkot Ternate. Dia mengingkian supaya persoalan yang terjadi antara Kota Baru dan Toboko tidak meluas di masyarakat. Kami berharap TNI dan Polri bisa menyelesaikan masalah ini hingga tuntas, harapnya.
Di tempat yang sama, tokoh masyarakat Toboko Muhammad Selang meminta Kapolres Ternate mengusut tuntas kasus ini karena kejadian yang sama terjadi tahun 2002, seorang warga Toboko tewas ditembak polisi tapi kasusnya tidak ditindak lanjuti hingga saat ini. “Kita masyarakat kecewa karena selalu dikorbankan, jangan-jangan Toboko dijadikan komuditi politik. Saya tidak menuduh polisi, anehnya warga Toboko ditangkap sementara warga Kota Baru tidak ditahan. Padahal penyerangannya dari Kota Baru ke Toboko, kenapa polisi tidak berada di Toboko tapi berada di Kota Baru. Sehingga yang jadi korban penembakan adalah warga Toboko, sesalnya. (can/aky)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »