| Salah satu korban pebenbakan |
TERNATE-Dua warga Toboko, kecamatan Ternate Selatan, Kota
Ternate meninggal dunia dalam peristiwa tawuran antar pemuda Toboko dan Kota Baru, Minggu (10/1) pagi. Tewasnya dua pemuda ini bukan karena perkelahian
antara dua kubu, melainkan satu ditembak dan satu lainnya ditabrak hingga
terseret dibawah mobil polisi. Sedihnya, dua korban yang tewas,
mereka justeru tak terlibat tawuran. Dengan begitu, polisi pasti menggunakan
alibi jitu, salah tembak dan salah tabrak. Tragis memang.
Seorang warga yang
ditembak mati bernama Dedi Rizaldi Ridwan (29), warga Toboko RT 08/RW 04. Ia
meninggal akibat peluru bersarang di bagian atas kening sebelah kiri saat
memperbaiki tenda persiapan senam pagi. Sementara Zulkifli Hasim (23), juga
warga Toboko yang berdomosili di Tanah Tinggi meninggal
ditabrak hingga terseret dibawah mobil Dalmas Polres Ternate.
Sementara korban luka
tembak yakni Nasrun
Kusuma (46),
terkena tembakan di bagian leher belakang hingga tembus. Korban saat ini masih
dirawat di RSUD Hasan Boesorie Ternate. selain itu, Fadli Pison (27),
warga kelurahan Toboko mengalami luka serius akibat terkena peluru tajam di bagian
kaki kanan akibat dan Muhammad
Fitra
(15),
warga kelurahan Toboko yang tertabrak mobil Dalmas Polres Ternate saat joging.
Korban luka tembak kini dirawat
secara intensif di RSUD Chasan Boesoeiri Ternate.
Aksi tawuran antar
pemuda dua kelurahan terjadi pada Minggu (10/1) pukul 04:10 WIT dini hari.
Kejadian bermula beberapa pemuda Toboko dan Kota Baru yang disinyalir sudah
mabuk minuman keras saling ejek di Gang Kayu Buah perbatasan Toboko-Kota Baru.
Saling ejek berlanjut hingga saling lempar botol dan batu. Aksi saling lempar berlangsung
sekitar 30 menit, aparat kepolisian Polres Ternate menurunkan 1 peleton Dalmas
di Tempat Kejadi Peristiwa untuk mengamankan.
Di TKP, polisi
berhasil membubakar akasi saling lempar dengan tembakan peringatan maupun
tembakan gas air mata. Cara ini berhasil, pemuda Toboko dan Kota Baru
membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Tapi konflik kembali
berlanjut di jalan baru kawasan pantai persis di jembatan satu perbatasan dua
kelurahan. Di perbatasan Toboko dan Kota Baru, saling lempar menggunakan batu
dan botol kembali terjadi.
Kejadian yang
berlangsung kurang lebih 45 menit itu, gabungan Polsek Ternate Selatan dan 1
peleton Dalmas Polres Ternate dengan tembakan gas air mata dan tembakan
peringatan ke udara tak berhasil membubakarkan. Polres kembali mendatangkan 1
peleton tambahan. Kedatangan pasukan tambahan tak lagi melakukan tembakan
peringatan tapi langsung menembak sasaran menggunakan peluru tajam dan mengenai
beberapa warga mengalami luka tembak dan seorang meninggal dunia. Korban yang
meninggal dunia bukan pelaku tawuran, tapi berada di lokasi itu memperbaiki
tenda untuk kegiatan senam pagi.
Kapolres Ternate AKBP
Kamal Bachtiar saat ditemui di rumah duka salah satu korban, Dedi Rizaldi
Ridwan di Toboko enggan berkomentar panjang. Kapolres beralasan, datanya belum
rampung baru akan menggelar konferensi pers. Kesal dengan tindakan yang dinilai
anarkis, warga memlokade jalan raya mulai lampu merah Toboko hingga hingga
perbatasan Mangga Dua atau persisnya di jembatan nomor dua.
Blokade jalan itu
menggunakan cabang pohon dan membakar ban bekas. Di lokasi tersebut juga
dipajang spanduk bertuliskan : Polisi pembunuh, warga Toboko minta Komnas HAM
mengusut tuntas. Maco, warga setempat mengaku, pemblokiran jalan itu sebagai
bentuk kekesalan terhadap tindakan polisi melakukan langkah pengamanan dengan
menembak dan menabrak warga hingga meninggal.
Ia meminta Kapolda
Brigejen Polisi Zulkarnain dan Kapolres Ternate, AKBP Kamal Bachtiar menangkap
pelaku penembakan dan penabrak warga menggunakan mobil polisi diproses dengan
aturan yang berlaku di kepolisian. Aksi pemblokiran jalan menyebabkan sejak sore
kemarin, lokasi pertabatasan Mangga Dua dan Toboko tak bisa dilewati kendaraan.
Sejumlah aparat TNI tampak berjaga-jaga di lokasi kejadian.
Wakasekjen DPP PKB, Usman Sidik mengutuk keras aksi yang dilakukan Polres
Ternate yang menangani masalah tawuran dengan kekerasan hingga menimbulkan
korban jiwa. Ia meminta Kapolda Maluku Utara, Brigjen Zulkarnain dan Kopolres
Ternate, AKBP Kamal Bachtir memproses anggotanya yang melakukan tindak
kekerasan. Usman mengaku telah meminta Komnas HAM untuk menyelidiki kasus
Toboko Kota Baru tersebut.
Sementara
itu, penjabat walikota Ternate, Idrus Assagaf mengatakan, pasca bentrok Pemkot langsung mengambil
langkah menggelar pertemuan dangan tokoh masyarakat kedua kelurahan. Dalam pertemuan yang berlangsung di
ruang Penjabat walikota (10/1) sore, dihadiri
Kapolres
Ternate AKBP. Kamal Bachtiar, Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Sigit Purwanto,
Kejari Ternate Andi Muldani Fajrin dan sejumlah tokoh masyarakat dua Kelurahan.
Dalam pertemuan itu, Idrus menjelaskan
Pemerintah Kota Ternate hanya memediasi kedua pihak untuk dapat menyelesaikan
konflik. Menurutnya, seluruh biaya perawatan korban di RSUD Chasan
Boesoeri Ternate menjadi tanggungjawab Pemkot Ternate. Dia mengingkian supaya
persoalan yang terjadi antara Kota Baru dan Toboko tidak meluas
di
masyarakat. “Kami
berharap TNI dan Polri bisa menyelesaikan masalah ini
hingga tuntas,” harapnya.
Di tempat yang sama, tokoh masyarakat Toboko Muhammad Selang
meminta Kapolres Ternate mengusut tuntas kasus ini karena kejadian yang sama terjadi tahun 2002, seorang warga Toboko
tewas ditembak polisi tapi kasusnya tidak ditindak lanjuti hingga saat ini. “Kita masyarakat kecewa
karena selalu dikorbankan, jangan-jangan Toboko dijadikan komuditi politik. Saya
tidak menuduh polisi, anehnya warga
Toboko ditangkap sementara warga Kota Baru tidak ditahan. Padahal penyerangannya dari
Kota Baru ke Toboko, kenapa polisi tidak berada di Toboko tapi berada di Kota
Baru. Sehingga yang jadi korban penembakan adalah warga Toboko,” sesalnya. (can/aky)