JAILOLO-Ribuan warga
Halmahera Barat (Halbar), hingga kini
masih tinggal ditenda pengungsian setelah rumah mereka hancur diguncang gempa
pada pekan lalu. Warga juga khawatir karena beredar isu adanya gelombang
tsunami, setelah gempa tektonik terjadi puluhan bahkan hingga ratusan kali
dalam satu hari. Hingga Minggu siang, 22 November 2015, BMKG mencatat
terjadi 99 kali gempa tektonik dengan magnitude rendah.
Potensi ini terjadi karena Halmahera
dihimpit dua lempeng benua besar, Indoaustria dan Pasifik. Sedangkan di bagian
utara dihimpit lempeng Philipina dan Sanghai. Dari multi lempeng tersebut
membuat wilaya ini rentan terhadap guncangan gempa. Gempa yang terus menerus
terjadi ini mengankibatkan 10 desa di Halmahera Barat mengungsi ke tenda-tenda
darurat.
Terkait kondisi ini, pemerintah setempat
menyiapkan 16 posko pengungsian yang dibangun dibebera desa yang mengalami
kerusakan terparah. Desa yang mengalami kerusakan terparah adalah desa Bobane Hena. Ada sebanyak 1.116 jiwa di desa ini
yang mengungsi. Di desa Payo ada
sebanyak 620 jiwa, desa Gaeria 320
jiwa, desa Tauro 1.129 jiwa dan desa
Buku Bualawa 434 Jiwa.
"Kami telah mendistribusikan
kebutuhan warga berupa bahan makanan dan tenda-tenda," kata Sekda Halmera
Abjan Sofyan. Tekait apa yang terjadi saat ini, Abjan meminta
kepada warga tidak percaya dengan isu yang tidak jelas sumbernya terkait
ancaman tsunami. "Tetap waspada dan
menunggu informasi dari sumber resmi," katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, gempa bumi yang
mengguncang Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, menyebabkan 370 rumah rusak
parah. Gempa yang berpusat di 61 km Timur Laut Ternate itu, terjadi sejak 16
November hingga 21 November 2015.
“Gempa bumi yang mengguncang Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, telah
menyebabkan 370 rumah rusak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB,
Sutopo Purwo Nugroho dalam pesan yang diterima wartawan di Jakarta, Minggu
(22/11).
Sutopo mengungkapkan, kerusakan rumah akibat gempa itu terjadi di Desa Bobanehena
dan Desa Galala, Kecamatan Jailolo. “Kerusakan di desa Bobanehena 276 unit
rumah rusak ringan, 53 unit rumah rusak sedang, 21 unit rumah rusak berat, dua
unit masjid rusak sedang, satu unit Sekolah Dasar rusak sedang. Sedangkan di desa
Galala 15 unit rumah rusak ringan, lima unit rumah rusak berat, satu unit
Musholah rusak sedang, dan satu ruas jalan umum rusak berat,” terangnya.
Menurut Sutopo, pihaknya dari BPBD Maluku Utara bersama SKPD Provinsi
Maluku Utara telah meninjau langsung lokasi kejadian guna melakukan penanganan
sementara kepada para korban yang mengalami kerusakan rumah akibat gempa. “Kendala
di lapangan adalah lokasi terdampak bencana cukup jauh dan aksesnya sulit
dijangkau. Jumlah personil sangat terbatas. Kebutuhan mendesak adalah logistik
berupa permakanan, dan bahan bangunan,” tukasnya.
Sebagaimana diketahui, gempa mengguncang Halmahera Barat dan sekitarnya Sabtu 21 November 2015 lalu, berpotensi menimbulkan tsunami. Sutopo mengingatkan, ada 15 daerah yang berstatus
siaga maupun waspada tsunami akibat gempa.
Dalam keterangan pers, Sutopo mengatakan agar pemerintah daerah yang
berstatus siaga tsunami itu memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat
untuk melakukan evakuasi. Adapun daerah yang berstatus waspada diharap
memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan
tepian sungai.
Status wilayah terhadap berpotensi
tsunami akibat gempa adalah Halmahera, Maluku Maluku Utara (Siaga), Halmahera
Utara (siaga), Kepulauan Sula (siaga), Bolaangmongondow bagian selatan,
Sulawesi Utara (siaga), Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (siaga), Kepulauan
Talaud, Sulawesi Utara (siaga), Minahasa Bagian Selatan, Sulawesi Utara
(siaga).
Minahasa-Selatan Bagian Selatan,
Sulawesi Utara (siaga), Minahasa Utara bagian selatan, Sulawesi Utara (siaga),
Minahasa Utara bagian utara, Sulawesi Utara (siaga), Gorontalo bagian utara,
Gorontalo (waspada), Buru, Maluku (waspada), Seram bagian barat, Maluku
(waspada), Halmahera Selatan, Maluku Utara (waspada), Kota Ternate, Maluku
Utara (waspada).
Gempa tersebut terjadi pada pukul 09.31
WIB dengan pusat gempa pada kedalaman 48 km utara Laut Maluku dan
158 km timur laut Bitung atau 160 km barat laut Ternate. Sutopo mengatakan,
gempa tersebut terasa kuat di Sitaro. "Masyarakat berhamburan keluar.
Belum ada informasi korban maupun kerugian," kata Sutopo. (rx-vnc)