Ribuan Warga Halbar Tidur di Pengungsian

Diposting oleh On Tuesday, November 24, 2015



JAILOLO-Ribuan warga Halmahera Barat (Halbar), hingga kini masih tinggal ditenda pengungsian setelah rumah mereka hancur diguncang gempa pada pekan lalu. Warga juga khawatir karena beredar isu adanya gelombang tsunami, setelah gempa tektonik terjadi puluhan bahkan hingga ratusan kali dalam satu hari. Hingga Minggu siang, 22 November 2015, BMKG mencatat terjadi 99 kali gempa tektonik dengan magnitude rendah.
Potensi ini terjadi karena Halmahera dihimpit dua lempeng benua besar, Indoaustria dan Pasifik. Sedangkan di bagian utara dihimpit lempeng Philipina dan Sanghai. Dari multi lempeng tersebut membuat wilaya ini rentan terhadap guncangan gempa. Gempa yang terus menerus terjadi ini mengankibatkan 10 desa di Halmahera Barat mengungsi ke tenda-tenda darurat.
Terkait kondisi ini, pemerintah setempat menyiapkan 16 posko pengungsian yang dibangun dibebera desa yang mengalami kerusakan terparah. Desa yang mengalami kerusakan terparah adalah desa Bobane Hena. Ada sebanyak 1.116 jiwa di desa ini yang mengungsi. Di desa Payo ada sebanyak 620 jiwa, desa Gaeria 320 jiwa, desa Tauro 1.129 jiwa dan desa Buku Bualawa 434 Jiwa.

"Kami telah mendistribusikan kebutuhan warga berupa bahan makanan dan tenda-tenda," kata Sekda Halmera Abjan Sofyan. Tekait apa yang terjadi saat ini, Abjan meminta kepada warga tidak percaya dengan isu yang tidak jelas sumbernya terkait ancaman tsunami.  "Tetap waspada dan menunggu informasi dari sumber resmi," katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, gempa bumi yang mengguncang Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, menyebabkan 370 rumah rusak parah. Gempa yang berpusat di 61 km Timur Laut Ternate itu, terjadi sejak 16 November hingga 21 November 2015.
“Gempa bumi yang mengguncang Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, telah menyebabkan 370 rumah rusak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam pesan yang diterima wartawan di Jakarta, Minggu (22/11).
Sutopo mengungkapkan, kerusakan rumah akibat gempa itu terjadi di Desa Bobanehena dan Desa Galala, Kecamatan Jailolo. “Kerusakan di desa Bobanehena 276 unit rumah rusak ringan, 53 unit rumah rusak sedang, 21 unit rumah rusak berat, dua unit masjid rusak sedang, satu unit Sekolah Dasar rusak sedang. Sedangkan di desa Galala 15 unit rumah rusak ringan, lima unit rumah rusak berat, satu unit Musholah rusak sedang, dan satu ruas jalan umum rusak berat,” terangnya.
Menurut Sutopo, pihaknya dari BPBD Maluku Utara bersama SKPD Provinsi Maluku Utara telah meninjau langsung lokasi kejadian guna melakukan penanganan sementara kepada para korban yang mengalami kerusakan rumah akibat gempa. “Kendala di lapangan adalah lokasi terdampak bencana cukup jauh dan aksesnya sulit dijangkau. Jumlah personil sangat terbatas. Kebutuhan mendesak adalah logistik berupa permakanan, dan bahan bangunan,” tukasnya.
Sebagaimana diketahui, gempa mengguncang Halmahera Barat dan sekitarnya Sabtu 21 November 2015 lalu, berpotensi menimbulkan tsunami. Sutopo mengingatkan, ada 15 daerah yang berstatus siaga maupun waspada tsunami akibat gempa.
Dalam keterangan pers, Sutopo mengatakan agar pemerintah daerah yang berstatus siaga tsunami itu memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi. Adapun daerah yang berstatus waspada diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai.
Status wilayah terhadap berpotensi tsunami akibat gempa adalah Halmahera, Maluku Maluku Utara (Siaga), Halmahera Utara (siaga), Kepulauan Sula (siaga), Bolaangmongondow bagian selatan, Sulawesi Utara (siaga), Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (siaga), Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (siaga), Minahasa Bagian Selatan, Sulawesi Utara (siaga).
Minahasa-Selatan Bagian Selatan, Sulawesi Utara (siaga), Minahasa Utara bagian selatan, Sulawesi Utara (siaga), Minahasa Utara bagian utara, Sulawesi Utara (siaga), Gorontalo bagian utara, Gorontalo (waspada), Buru, Maluku (waspada), Seram bagian barat, Maluku (waspada), Halmahera Selatan, Maluku Utara (waspada), Kota Ternate, Maluku Utara (waspada).
Gempa tersebut terjadi pada pukul 09.31 WIB dengan pusat gempa pada kedalaman 48 km utara Laut Maluku dan 158 km timur laut Bitung atau 160 km barat laut Ternate. Sutopo mengatakan, gempa tersebut terasa kuat di Sitaro. "Masyarakat berhamburan keluar. Belum ada informasi korban maupun kerugian," kata Sutopo. (rx-vnc)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »