Rektor : Tak Ada Beasiswa Disunat

Diposting oleh On Thursday, November 19, 2015

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate DR Abdurrahman I. Marasabessy merasa difitnah oleh oknum mantan mahasiswa yang menudingnya menyunat beasiswa dan membayar tak sesuai dengan jumlah yang telah dijanjikan sebagaimana dalam sambutan wisuda beberapa waktu lalu.
“Bagaimana mungkin saya dituduh memotong beasiswa, sementara beasiswa dari pemda Maluku Utara sampai saat ini belum cair. Kalau pun dicairkan, itu melalui rekening masing-masing. Karena prosesnya melalui KPN ke bank, selanjutnya ditranfer ke rekening penerima,” jelas Rektor kepada Seputar Malut via telepon, Rabu (18/11) malam tadi.
Rektor mengancam, apabila kedapatan sumber, baik dosen, pegawai atau mahasiswa yang memberikan informasi yang tidak benar kepada wartawan akan ditindaklanjuti diproses hukum. Sebab hal itu sudah masuk dalam kategori fitnah dan pembohongan publik.
“Saya kira, wajar-wajarlah, kalau sumber memberikan informasi kepada wartawan. Saya marah karena hal yang tidak benar,” tegasnya lagi.
Mantan ketua STAIN Ternate ini menilai, pemberitaan yang dikutip dari sumber itu semuanya tidak benar. Judul dan isi berita disampaikan sumber tak satu pun benar. Yang benar menurutnya, tidak ada cara yang bisa dilakukan Rektor atau pun lembaga mengambil atau mengkorup beasiswa, sebab mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bukan diserahkan secara tunai oleh bendahara atau lembaga. Tetapi melalui rekening masing-masing mahasiswa penerima.

Kampus katanya hanya berkewajiban memfasilitasi mahasiswa yang akan mendapatkan bantuan sesuai kriteria yang diminta lembaga pemberi beasiswa. “Misalnya Pemda, Bank Indonesia dan beberapa sumber lainnya, mahasiswa hanya menyerahkan rekening ke kampus, selanjutnya kampus menyerahkan rekening tersebut kepada badan atau instansi pemeberi beasiswa, bukan kampus ambil uang untuk dan dibagi-bagi kepada mahasiswa. Ini yang keliru,” urainya.
Dikatakan, uang beasiswa yang disebut sumber itu hingga saat ini belum ada, sementara rektor dituding menyunat uang beasiswa. “Yang tahu soal uang bukan rektor tapi bagian keuangan. Bagaimana mungkin saya sunat uang beasiswa sementara uang saja belum ada. Kenapa saya yang harus urus beasiswa, kan ada staf bagian keuangan. Masa saya harus turun urus uang beasiswa, ini kan tidak wajar,“ tegasnya Rektor.
Tugas dan fungsi kampus katanya, hanya mengindentifikasi mahasiswa yang layak mendapatkan beasiswa, selanjutnya mahasiswa sendiri yang menyerahkan rekening kepada instansi pemberi beasiswa. Begitu pula penerima uang beasiswa ditransfer langsung ke rekening masing-masing oleh instansi pemberi beasiswa.
“Saya melihat dari judul, isi dan angka-angka nominal yang disebutkan sumber sangat tidak betul. Tidak mungkin satu mahasiswa mendapat beasiswa sebesar Rp50 juta. Itu tidak mungkin, sebab yang menentukan jumlah dan angka besaran beasiswa adalah instansi pemberi, bukan kampus yang menentukan,” ungkapnya.
Rektor mengaku kesal ketika wartawan mendapat informasi tidak langsung mengkonfirmasinya. Kalaupun tidak menemuinya, berhubungan dengan bagian keuangan yang mengurus masalah tersebut. “Saya masih ingat waktu sambutan wisuda, saya lebih banyak menyampaikan sumber-sumber beasiswa yang ada di kampus, bukan angka-angka sebagaimana yang dipaparka sumber. Oleh karena itu saya kira sumber yang memberikan informasi supaya berpikir lebih rasional, jangan main fitnah tanpa mencari tahu fakta yang sebenarnya,” tandasnya. (can)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »