Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan
Boesoeiri Ternate, tak habis-habisnya menuai masalah. Selain pelayanan yang
dinilai tak memuaskan, belakangan dikabarkan kehabisan alat pencuci daerah
seperti selang dan jarum suntik serta beberapa alat medis lain untuk pasien
cuci darah.
Akibatnya,
pihak rumah sakit khusunya ruang HD terpaksa melakukan pembagian jadwal
pelayanan cuci darah menggunakan shif. Padahal selama ini, jadwal cuci daerah
hanya dilakukan dua shif, belakangan bershif-shif dengan satu tenaga dokter di
ruang HD.
Salah
seorang dokter yang bertugas di ruang HD yang engan namanya
dikorankan mengaku,
kehabisan alat cuci daerah akibat terlambat dipesan bagian farmasi RSUD ke
bagian umum dan perlengkapan. Selain itu, faktor permintaan yang diajukan oleh
formasi direktur pemasaran umum di Manado (Sulut) dan Makassar (Sulsel). Sebab
alat pencuci daerah digunakan RSUD menggunakan dua mesin berbeda merek pada dua
perusahaan di Manado dan Makassar, sehingga pemesanannya pun berbeda
persuahaan.
Dikatakan,
pihak RSUD seharusnya mengambil langkah sebelum kehabisan alat sudah harus
dipesan, sehingga tidak merugikan kedua pihak yakni rumah sakit dan pasien.
Keterlambatan pemasokan alat pencuci daerah selain menurunkan pendapatan RSUD,
juga setiap saat pasien wajib cuci darah. “Kalau tidak dicuci, resikonya pasien
menderita,” ujarnya.
Mantan
ketua PGRI Maluku Utara, Suratin Ibrahim yang merupakan salah satu pasien
pencuci darah mengaku bingung. Sebab ia harus mencuci darah secara rutin sesuai
jadwal yang ditentukan dokter. Dikatakan, awalnya pasien cuci darah hanya
dibagi dua shif, lantaran kehabisan alat terpaksa dibagi menjadi empat shif.
Sementara
dalam sehari hanya dapat dilayani dua shif, sehingga pasien yang sudah
dijadwalkan cuci daerah menunggu hari berikutnya, menyababkan banyak pasien
pingsan di ruang HD RSUD lantaran mengantri terlalu panjang dan lama. (can)