Penyelesaian
tapal batas Halmahera Timur (Haltim) dan Halmahera Tengah (Halteng) yang
berlarut-larut bakal menjadi bom waktu. Menyusul ke depan akan adanya istorasi
sumber daya alam pertambangan yang bergerak di Kabupaten/Kota Provinsi Malut,
terutama Haltim-Halteng. Hal ini dasampaikan Ketua Komisi II DPRD (Deprov)
Maluku Utara Wahda Zainal Imam kepada Seputar Malut Senin (16/11).
Menurut
politisi partai Gerindra itu, kalaupun istorasi sumberdaya alam pertambangan
sudah mulai muncul diantara perbatasan wilayah, akan menyebabkan konflik
masyarakat. Untuk itu, pemerintah provinsi segera mengambil langkah-langkah menyelesaikan
tapal batas kabupaten/kota. Sebab konsekuensi hukumnya banyak, termasuk
perajinan, CSR masyarakat dua kabupaten tersebut yang merupakan kewenangan
pemerintah provinsi untuk menyelesaikan. Namun katanya, langkah teknis yang
diambil biro pemerintahan Pemprov Malut hingga kini belum berjalan baik. "Kami
komisi II sudah rapat tapal batas beberapa kali, ternyata sama juga tida
selesai," sesalnya.
Wahda
mengemukakan, secerdas apa pun gubernur, jika bidang teknis biro pemerintahan
tidak gesit, maka seluruh kebijakan tidak berjalan normal. Soal tapal batas kabupaten/kota
harus dapat diselesaikan dengan diberikan kesempatan dua kabupaten untuk
menyelesaikan. Apabila tidak dapat diselesaikan, maka berdasarkan regulasi
pemerintah provinsi dapat mengusulkan kepada Depdagri untuk dikeluarkan surat
keputusan tapal batas pada Haltim-Halteng. "Ini adalah kewenangan biro
pemerintahan Maluku Utara, untuk menyelesaikan tapi kenapa tidak jalan," herannya.
Dikatakan, seharusnya tapal batas Haltim-Halteng
sudah fainal apabila Pemprov Malut tegas, namun sepertinya ketegasan itu belum
dilakukan Pemprov Malut. Sehingga penyelesaian tapal batas Haltim-Halteng tidak
berjalan maksimal. Yang pasti kata Wahda, mengulur-ulur penyelesaian tapal
batas akan menjadi bom waktu ketika estorasi sumber daya alam pertambangan
terdapat di wilayah perbatasan kabupaten/kota. "Kami berharap, Pemprov segera
mengambil langkah menyelesaikan," harapnya. Nasib, nasib. (din)