Kursi ketua Federasi Olahraga Karate
Indonesia (Forki) Maluku Utara, Amin Drakel digoyang Majelis Sabuk Hitam (MSH).
Mereka meminta Amin memilih, apakah mengundurkan diri atau diturunkan secara
paksa. Lagi pula kepengurusan Forki Malut belum mengantongi legalitas formal
karena tak melalui proses musyawarah, otomatis kepemimpin anggota Fraksi PDIP
DPRD provinsi Malut itu dianggap ilegal.
“MSH Malut akan membuat laporan lisan dan
tertulis terkait dengan dana Kejurnas Mendikbud tahun 2014 di Malut, karena
iven itu memalukan Pemerintah daerah Maluku Utara. Sebab ada keluhan akomodasi
tamu kontingen luar daerah, termasuk makanan, minuman, juri dan wasit yang terkesan
berpihak mencari keuntungan pribadi,” ungkapnya Majelis Sabuk Hitam (MAH) Malut,
Handoko dalam rilis yang diterima Seputar Malut, Selasa (17/11) malam tadi.
Handoko mendesak Amin Drakel dan pendamping,
kecuali atlet mengembalikan anggaran Pra PON di Medan tahun 2015, karena mereka
tidak memiliki Surat Keputusan (SK) resmi dari PB FORKI, karena kepengurusannya
tidak melalui musyawarah. “Kehadiran Amin Drakel dan kroninya dianggap merusak
dan merugikan atlet dan FORKI Malut,” tegasnya.
Kemarahan Majelis Sabuk Hitam karena
menganggap ketua Forki Malut, Amin Drakel melakukan kesalahan besar. Rekruitmen
karateka untuk diikutkan dalam Pra PON di Medan. Selain merekrut karateka yang
tak memilik, juga mengontrak karateka daerah lain. Sementara karateka yang nota
bene putra daerah yang memiliki prestasi tak diikutkan.
Akibatnya, awal babak penyisihan Pra PON di
Medan, seluruh nomor, karateka Malut dibatai habis tak tersisa. Akhirnya,
cabang olahraga karate tak lolos di PON Jawa Barat 2016. “Padahal ajang ini
merupakan iven bergengsi meraih tiket Pra PON Jawa Barat 2016,” ujar Handoko.
Kegagalan ini lanjutnya, lantaran Amin Drakel mendengar bisikan mengikutkan karateka
yang tidak berprestasi. Rata-rata karateka dikontrak dari luar Malut, sementara
karateka asal Malut yang memiliki prestasi gemilang justeru dibiarkan merana.
Handoko mengaku mencium bau tak sedap dari salah
satu karateka. Bayangkan, karateka yang ikut iven nasional tak pernah latihan
dan tak memiliki prestasi. “Karateka itu tak pernah juara Porprov Malut, tapi
malah diikutkan. Yang penting jadi penggembira dapat jalan-jalan dan belanja,”
sindirnya. Seraya menambahkan, kasus seperti ini menurutnya merupakan sejarah
paling memalukan Maluku Utara. (aky)