Amin Drakel Digoyang Majelis Sabuk Hitam

Diposting oleh On Wednesday, November 18, 2015

Kursi ketua Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Maluku Utara, Amin Drakel digoyang Majelis Sabuk Hitam (MSH). Mereka meminta Amin memilih, apakah mengundurkan diri atau diturunkan secara paksa. Lagi pula kepengurusan Forki Malut belum mengantongi legalitas formal karena tak melalui proses musyawarah, otomatis kepemimpin anggota Fraksi PDIP DPRD provinsi Malut itu dianggap ilegal.
“MSH Malut akan membuat laporan lisan dan tertulis terkait dengan dana Kejurnas Mendikbud tahun 2014 di Malut, karena iven itu memalukan Pemerintah daerah Maluku Utara. Sebab ada keluhan akomodasi tamu kontingen luar daerah, termasuk makanan, minuman, juri dan wasit yang terkesan berpihak mencari keuntungan pribadi,” ungkapnya Majelis Sabuk Hitam (MAH) Malut, Handoko dalam rilis yang diterima Seputar Malut, Selasa (17/11) malam tadi.

Handoko mendesak Amin Drakel dan pendamping, kecuali atlet mengembalikan anggaran Pra PON di Medan tahun 2015, karena mereka tidak memiliki Surat Keputusan (SK) resmi dari PB FORKI, karena kepengurusannya tidak melalui musyawarah. “Kehadiran Amin Drakel dan kroninya dianggap merusak dan merugikan atlet dan FORKI Malut,” tegasnya.
Kemarahan Majelis Sabuk Hitam karena menganggap ketua Forki Malut, Amin Drakel melakukan kesalahan besar. Rekruitmen karateka untuk diikutkan dalam Pra PON di Medan. Selain merekrut karateka yang tak memilik, juga mengontrak karateka daerah lain. Sementara karateka yang nota bene putra daerah yang memiliki prestasi tak diikutkan.
Akibatnya, awal babak penyisihan Pra PON di Medan, seluruh nomor, karateka Malut dibatai habis tak tersisa. Akhirnya, cabang olahraga karate tak lolos di PON Jawa Barat 2016. “Padahal ajang ini merupakan iven bergengsi meraih tiket Pra PON Jawa Barat 2016,” ujar Handoko. Kegagalan ini lanjutnya, lantaran Amin Drakel mendengar bisikan mengikutkan karateka yang tidak berprestasi. Rata-rata karateka dikontrak dari luar Malut, sementara karateka asal Malut yang memiliki prestasi gemilang justeru dibiarkan merana.
Handoko mengaku mencium bau tak sedap dari salah satu karateka. Bayangkan, karateka yang ikut iven nasional tak pernah latihan dan tak memiliki prestasi. “Karateka itu tak pernah juara Porprov Malut, tapi malah diikutkan. Yang penting jadi penggembira dapat jalan-jalan dan belanja,” sindirnya. Seraya menambahkan, kasus seperti ini menurutnya merupakan sejarah paling memalukan Maluku Utara. (aky)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »