Perjuangan Hidup Keluarga Mahasiswa Unkhair

Diposting oleh On Saturday, October 31, 2015 with No comments

Sebuah gubuk ukuran 5x6 meter persegi terletak dilingkungan RT. 12/RW. 06, bukan rumah kebun. Meski mirip rumah kebun, di dalamnya hidup sebuah keluarga dan dua orang anak. Mereka adalah keluarga Puji Haryanto dan Sopiah serta dua anaknya, Imron Rusdi (20) dan Anisa Paradila (9), kelas tiga SD.
Gubuk yang dibangun itu berasal dari tanah pinjaman salah satu pemilik tanah. Puji kini menderita strok, sehingga isterinya Sopia terpaksa menjual pepaya parut untuk sayur guna membiayai hidup dan biaya sekolah dua anaknya. Meski demikian, anak tertua bernama Imron Rusdi kini kuliah di fakultas teknik semester III Unkhair Ternate. Sementara adiknya, Anisa Paradila masih duduk dibangku SD kelas tiga.

Untuk membatu biaya kuliah dan biaya hidup, Imron terpaksa menggarap sebidang tanah, disamping tempat tinggal untuk menam sayur-mayur. Sebab Imron tak mungkin berharap pada ayahnya yang kini hanya terbaring menderita penyakit stroke dan tak bisa bekerja. Saat ditemui Seputar Malut dilingkungan Bukti Pelangi, Jati Metro, Imron sibuk mengurus tanaman sayur-mayur yang kini kering karena kemarau panjang. Untuk menyambung hidup keluarga, Imron memabantu ibunya memarut pepaya untuk dijual ke pasar guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sopia (38), ibu Imron, hanya berharap anaknya bisa selesai kuliah agar membantu ekonomi keluarga. Namun yang jadi persoalan, kondisi ekonominya sungguh memprihatinkan. Disatu sisi, tuntutan biaya hidup yang tinggi, disi lain kebutuhan biaya kuliah anaknya harus dipenuhi. Sehingga Imron selain membantu ekonomi keluarga dengan bekerja apa adanya, juga mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membiayai kuliah.
Sopia berharap, pihak kampus Unkhair membantu memberikan beasiswa hingga anaknya menyelesaikan studi. Kalau pun tidak, minimal memberikan keringanan biaya studi. Sebab keinginan anaknya untuk kuliah tak bisa dihalangi walaupun kondisi ekonomi tak memungkinkan. “Kondisi kami seperti ini, minimal ada keringinan biaya dari kampus untuk Imron,” ujar Sopia dengan mata berkaca-kaca.
Ila (40) tetangga mengaku, mengenal keluarga Imron sudah cukup lama. Kedua orang tuanya memang dikenal rajin bekerja, namun setahun belakangan ini, ayah Imron menderita sakit strocke, sehingga tanaman sayur-mayur terpaksa diurus Sopia dan dibantu Imron untuk dipasarkan.
Menurut Ila, kondisi keluarga ini layak dibantu pemerintah, terutama pendidikan anak-anak mereka. Minimal pihak kampus memberikan beasiswa kepada Imron agar bisa menyelesaikan studinya. “Sangat layak mereka mendapat bantuan pemerintah, terutama pihak kampus memberikan beasiswa untuk pendidikan Imron dan adiknya,” ujar Ila penuh iba. (can)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »