Sebuah gubuk ukuran 5x6 meter persegi
terletak dilingkungan RT. 12/RW. 06, bukan rumah kebun. Meski
mirip rumah kebun, di dalamnya hidup sebuah keluarga dan dua orang anak. Mereka
adalah keluarga Puji Haryanto dan Sopiah serta dua anaknya, Imron Rusdi (20)
dan Anisa Paradila (9), kelas tiga SD.
Gubuk yang dibangun itu berasal dari
tanah pinjaman salah satu pemilik tanah. Puji kini menderita strok, sehingga
isterinya Sopia terpaksa menjual pepaya parut untuk sayur guna membiayai hidup
dan biaya sekolah dua anaknya. Meski demikian, anak tertua bernama Imron Rusdi
kini kuliah di fakultas teknik semester III Unkhair Ternate. Sementara adiknya,
Anisa Paradila masih duduk dibangku SD kelas tiga.
Untuk membatu biaya kuliah dan biaya
hidup, Imron terpaksa menggarap sebidang tanah, disamping tempat tinggal untuk
menam sayur-mayur. Sebab Imron tak mungkin berharap pada ayahnya yang kini
hanya terbaring menderita penyakit stroke dan tak bisa bekerja. Saat ditemui
Seputar Malut dilingkungan Bukti Pelangi, Jati Metro, Imron sibuk mengurus
tanaman sayur-mayur yang kini kering karena kemarau panjang. Untuk menyambung
hidup keluarga, Imron memabantu ibunya memarut pepaya untuk dijual ke pasar
guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sopia (38), ibu Imron, hanya berharap
anaknya bisa selesai kuliah agar membantu ekonomi keluarga. Namun yang jadi
persoalan, kondisi ekonominya sungguh memprihatinkan. Disatu sisi, tuntutan
biaya hidup yang tinggi, disi lain kebutuhan biaya kuliah anaknya harus
dipenuhi. Sehingga Imron selain membantu ekonomi keluarga dengan bekerja apa
adanya, juga mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membiayai kuliah.
Sopia berharap, pihak kampus Unkhair
membantu memberikan beasiswa hingga anaknya menyelesaikan studi. Kalau pun
tidak, minimal memberikan keringanan biaya studi. Sebab keinginan anaknya untuk
kuliah tak bisa dihalangi walaupun kondisi ekonomi tak memungkinkan. “Kondisi
kami seperti ini, minimal ada keringinan biaya dari kampus untuk Imron,” ujar
Sopia dengan mata berkaca-kaca.
Ila (40) tetangga mengaku, mengenal
keluarga Imron sudah cukup lama. Kedua orang tuanya memang dikenal rajin
bekerja, namun setahun belakangan ini, ayah Imron menderita sakit strocke,
sehingga tanaman sayur-mayur terpaksa diurus Sopia dan dibantu Imron untuk
dipasarkan.
Menurut Ila, kondisi keluarga ini layak dibantu
pemerintah, terutama pendidikan anak-anak mereka. Minimal pihak kampus
memberikan beasiswa kepada Imron agar bisa menyelesaikan studinya. “Sangat
layak mereka mendapat bantuan pemerintah, terutama pihak kampus memberikan
beasiswa untuk pendidikan Imron dan adiknya,” ujar Ila penuh iba. (can)