Ditengah
seluruh kepala desa (Kades) sibuk mencairkan dana desa (DD), Kades Auponhia,
kecamatan Mangoli Selasan, kabupaten Kepulauan, RA alias Utam malah sibuk
mencabuli seorang siswi SMP bernisial SAB (15), warga setempat. Bahkan sang
kades berusaha memperkosa siswi kelas III satu atap Auponhia itu. Korban kepada Seputar Malut, Minggu
(1/11) kemarin menuturkan, ia merupakan anak angkat keluarga Utam. Bahkan
korban menganggap kades dan isterinya sebagai orang tua dan memanggil mereka
ayah dan ibu.
Pencabulan dan
upaya perkosaan itu terjadi pada Agustus 2015. Saat itu isteri pelaku bersama
anak-anak serta korban nonton pesta. Tiba-tiba salah satu anaknya menangis.
Korban lantas dipanggil sang kades untuk mengantar pulang anaknya. Saat pulang,
pelaku mengikuti korban dari belakang, sampai di rumah Utam langsung memeluk
korban dari belakang dan tangannya memasukkan dalam baju meremas (maaf) buah
dada korban. Merasa diperlakukan demikian, korban menolak dan langsung pergi
meninggalkan korban dalam rumah.
Tak hanya itu,
korban yang tidur bersama dengan ponakan kades, tiba-tiba menyelinap masuk
dalam kamar. Alasannya, meminta ponakannya mengurut punggung Utam. Usai di urut
ponakan, Utam langsung berbalik meremas buah dada dan korban langsung
berteriak. Takut jangan didengar isteri dan tentangga, Utam buru-buru keluar
dari kamar.
Dua kali
melecehkan anak angkatnya tak membuat Utam insaf. Ia malah mengulangi lagi
perbuatannya saat ponakannya pergi ke Sanana. Korban yang tidur sendiri,
tiba-tiba Utam masuk dalam kamar langsung membuka celana korban dan memperkosanya.
Mulut korban disekap dan kakinya ditindih dengan bantal sehingga korban tidak
bisa berteriak. Dengan kondisi pasrah, kades merenggut mahkota korban. Meski
demikian, korban takut melaporkan lantaran selain kepala desa, Utam dianggap
sebagai orang tua sendiri. “Saya takut karena pak Utam kepala desa, kalau pun
melapor pasti dituduh berbohong,” tuturnya.
Setelah
kesuciannya direnggut paksa kades, korban pergi ke Sanana. Malamnya, Utam
datang mengajak korban makan ayam lalapan. Ternyata, korban bukan diajak makan,
tapi dibawa ke Waibau Sanana Utara. Merasa tempatnya aman, Utam menghentikan
motor dan kembali melakukan perbuatan bejatnya. Namun kali ini gagal lantaran
korban lari walaupun ia mengaku tak menguasai daerah sekitar. Takut jangan
sampai terjadi sesuai, Utam mengajak korban dan diantar pulang.
Kejadian ini
ternyata diketahui dua teman kelasnya, Ena Umafagur dan Surlina Umafagur.
Menurut penuturan korban, korban telah dinodai sejak SMP kelas II hingga korban
naik kelas III baru diketahui. “Kami tanya pada korban, apa benar kepala desa
mengajak SA makan ayam lalapan, dan korban mengakui mereka tak makan tapi
dibawa ke salah satu tempat sunyi di Waibau. Sehingga kami melaporkan kejadian
ini kepada orang tua kami, karena saat ini sudah menjadi gosip panas di
masyarakat dan pihak keluarga melaporkan kepada kepala sekolah karena keluarga
korban tak berani melaporkan ke polisi,” tutur keduanya.
Kepala SMPN 3
satu atap Kecamatan Mangoli Selatan, Arifin Kaunar saat dikonfirmasi Seputar Malut
(01/10) kemarin mengaku, warga melaporkan kejadian pada Jumat, 28 Oktober 2015,
eskonya Sabtu jam 9 pagi, keluarga korban menyerang rumah kades. “Saya panggil
SA menginterogasinya dan korban mengakui, bahwa siswi diperkosa sejak masih SMP
kelas II namun takut melaporkan, sehingga saya sendiri melaporkan ke Polres
Sula,” jelasnya.
Kini, pelaku
yang tak lain kepala desa ini telah ditahan Polres Kepsul di Sanana untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kepsek mengaku baru tiba dari Mangoli
bersama korban dan dua teman korban. Rencananya, Senin (2/11) hari ini akan
mengantar korban dan dua temannya ke Polres untuk memberikan keterangan.
“Begitu tiba, kami langsung ke rumah sakit untuk divisum. Sebagai kepsek, saya
mengawal kasus ini sampai tuntas hingga pelakunya dijebloskan ke penjara,”
tegas Arifin Kaunar.
Sementara
Kasat Reskrim Polres Kepulauan Sula AKP Arifin Laode Buri membenarkan laporan
tersebut. Namun, kasus itu belum sampai ke Satreskrim. “Masih di SPKT, besok (hari
ini-red) baru korban lapor secara resmi,” kata Arifin. (sdl)