JAKARTA-Anggota DPD RI
Basri Salama mendatangi Markas Polda Metro Jaya. Kedatangannya itu untuk
membesuk salah satu anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ismail Ibrahim
(20), yang ditahan terkait demonstrasi ricuh 4 November.
"Ismail anak angkat saya. Ia
tinggal di rumah saya, yang bersangkutan diciduk pukul 20.30 WIB malam
ya," ujar Basri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (10/11). Basri
menyesalkan upaya paksa aparat polisi yang menangkap Ismail di rumahnya di
kawasan Pejaten, Jaksel itu. Menurutnya, polisi cukup memberitahunya dan ia
siap mengantarkan Ismail.
"Saya kan pejabat negara,
semestinya cukuplah beritahu saya. Saya akan mengantar yang bersangkutan kalau
dituduhkan. Yang sangat disayangkan penangkapan itu kenapa harus malam hari,
sepertinya tidak ada waktu siang," jelas Basri.
Basri menerangkan, ketika Ismail ditangkap pada Sabtu
(5/11) malam lalu, ia sedang tidak ada di rumahnya. Namun, dia mendapat
informasi penangkapan Ismail itu dari istrinya. "Waktu ditangkap yang
bersangkutan sedang baring-baring di lantai dua, menonton televisi. Tidak
sedikit pun melakukan perlawanan, dibawa sama kurang lebih 30 anggota tapi
memang masuk dengan RT," ucap Basri.
Basri mengungkap kedekatannya dengan
Ismail karena berasal dari satu daerah yakni dari Tidore, Maluku Utara. Ismail
tinggal di rumahnya sudah 1 tahun
"Memang tidak ada hubungan
keluarga, cuma saya angkat dia sebagai anak angkat karena dia dari keluarga
orang kurang mampu dan mempunyai cita-cita besar kuliah di Jakarta. Saya punya
kewajiban menampung yang bersangkutan untuk melanjutkan pendidikannya,"
ungkap Basri.
Basri mengenal Ismail dari sebuah
organisasi mahasiswa yang berasal dari Tidore. Setelah berkenalan, Basri merasa
terpanggil untuk menampung dan mengangkatnya sebagai anak angkat. "Saya
tahu keseharian dia, anaknya baik. Orang kuliah saja dia jalan kaki kan dekat
dari rumah. Kuliah di Unas," lanjut Basri.
Sementara itu, Basri mengatakan
kedatangannya ke Polda Metro Jaya adalah untuk membesuk Ismail. "Saya mau
besuk dia, bawakan makanan. Dari pertama kali dia ditangkap pun saya sudah
besuk dia," tandas Basri.
Ismail adalah salah satu kader HMI yang
ditangkap polisi atas dugaan keterlibatan aksi ricuh di demo 4
November lalu. Selain Ismail, polisi juga menetapkan empat tersangka dari HMI
termasuk salah satunya adalah Sekjen HMI Amijaya Halim. Selain Amijaya, Ismail
dan ketiga rekannya ditahan di Rutan Polda Metro Jaya atas dugaan Pasal 214
junto 212 KUHP tentang melawan perintah pejabat yang sedang bertugas.
Sementara pihak kampus Universutas
Nasional (Unas) mencatat Ismail memiliki perstasi yang baik sebagai anak rantau
dari Tidore. Meski membawa nama pribadi, sosok Ismail cukup dikenal di kampus.
"Ismail merupakan mahasiswa Unas. Dia memiliki prestasi yang baik,” ujar Kepala
Bidang Humas Unas Dian Metha.
"Dari sisi akademik, mahasiswa ini
cerdas, IPK bagus sampai 3,29. Bahkan tidak ada catatan buruk di kampus. Dia
anak rantau dari Tidore yang punya semangat kuliah yang tinggi," ungkap
Dian. (dtc)
