| Kabag TU Kemenag Malut, H. Sarbin Sehe, S.Ag, M.PdI foto bersama pejabat Kemenag Malut dan Kemenag Kota Tikep serta Pengurus Ponpes Harisul Khairaat Kota Tikep usai pembukaan kegiatan. |
TIDORE-Menyambut Hari
Santri Nasional ke-2 tanggal 22 Oktober 2016, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag)
Provinsi Maluku Utara melalui Bidang Pendidikan Islam melakukan kegiatan
Pencanangan Budaya Nasional Menulis Al-Quran 30 Juz. Ini merupakan kegiatan
Kementerian Agama RI yang dilaksanakan secara serentak di 34 provinsi seluruh
Indonesia.
Di
Maluku Utara, kegiatan penulisan Mushaf Al-Quran 30 Juz dipusatkan di Pondok
Pesantren (Ponpes) Harisul Khairaat Bumi Hijrah Tidore, Rabu (12/10). Kegiatan
ini diikuti 350 santri Ponpes Harisul Khairaat Kelurahan Ome Kota Tidore
Kepulauan.
Penanggung
jawab kegiatan, Drs H. Amar Manaf, M.Si dalam laporannya mengatakan, tujuan
kegiatan ini untuk mendorong para santri pondok pesantren lebih meningkatkan
budaya menulis Al-Quran yang selama ini sudah mapan di lingkungan pondok
pesantren. Menurutnya, penulisan mushaf Al-Quran diagendakan akan diikuti 600
santri, namun terkendala anggaran maka dibatasi hanya 350 santri.
Meski
demikian, santri yang ikut penulisan Al Qur’an ditargetkan akan menyelesaikan
dalam waktu 1 jam menuliskan Al-Quran 30 Juz sebanyak 2 Mushaf/Kitab dalam lembaran
ukuran besar dan sedang. “Hasil penulisan 2 Mushaf Al-Quran ini akan dijilid
dan diserahkan pada Puncak acara peringatan Hari Santri Nasional yang
dipusatkan di Provinsi Banten,” ujar Amar Manaf.
Kepala
Kanwil Kemenag Malut yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, H. Sarbin Sehe,
S.Ag, M.PdI saat membuka Pencanangan Budaya Nasional Menulis Al-Quran 30 Juz menyatakan
menyambut baik kegiatan yang baru pertama diadakan di Indonesia, dan khusus di
Maluku Utara di Ponpes Harisul Khairaat Ome Tidore.
Menurut
Sarbin, ada dua hal penting dalam momentum ini yang bisa dipetik sebagai hikmah
yakni, pertama, ajakan untuk melakukan ‘Iqra
bil Qolam’ yaitum pembacaan Al-Quran dengan cara menuliskannya. “Budaya penulisan Al-Quran
bertujuan agar ayat-ayat suci Al-Quran tidak hanya dipahami dengan cara
membacanya saja, tetapi juga dipahami lewat aktivitas menuliskan. Dan jauh
lebih penting dari keduanya adalah upaya penghayatan dan pengamalan isi
kandungan Al-Quran,” ajaknya.
Kedua
lanjut Sarbin, motivasi bagi umat Islam untuk selalu mempedomani Al-Quran
sebagai pegangan hidup. “Al-Quran bukanlah kitab sejarah yang hanya
menceritakan kisah umat-umat terdahulu, namun lebih dari adalah kitab pedoman
hidup umat Islam yang isinya wajib dihayati dan diamalkan dalam aktivitas
kehidupan setiap Muslim,” jelas Sarbin. Sarbin berharap agar para santri yang
ikut penulisan mushaf Al-Quran serius dan ikhlas melakukan, karena ini menjadi
bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Usai
membuka pencanganan Budaya Nasional Menulis Al-Quran, Kabag TU didampingi
pejabat teknis Bidang Pendis Kemenag Malut dan Kemenag Kota Tikep melakukan
kunjungan kerja di MIN Bobo dan MIS Mareku untuk melihat secara dekat
kekurangan sarana prasarana kedua madrasah itu.
Dalam
kunjungan itu, Sarbin mengakui masih ada beberapa madrasah di Kota Tidore
Kepulauan yang membutuh perhatian dari segi sarana dan prasarana, namun secara
umum dinilai perkembangan madrasah di Kota Tikep cukup membanggakan.
Buktinya, tujuh madrasah di Kota Tidore
Kepulauan mendapat penghargaan sebagai Adiwiyata Tingkat Provinsi Maluku Utara
Tahun 2016.
Ketujuh
madrasah itu lanjutnya yakni, MTsS Tomalou, MIN Dokiri, MAS Dowora, MIS Rum,
MIS Tomalou, MIS Cobo dan MIS Balbar. “Hari ini mereka menerima penghargaan perayaan
HUT Provinsi Maluku Utara di Sofifi,” tandas Sarbin. (rdx/pn)