![]() |
| (ilustrasi) |
TERNATE-Sesuai survey Lembaga Survey dan kajian politik "Indonesia Development
Monitoring (IDM), menempatkan pasangan calon walikota dan wakil walikota Tidore
Kepulauan nomor urut 1 Drs. Hamid Muhammad-Abdurrahim Saraha SH, (HARISMA) memiliki
elektabilitas tertinggi dengan persentase 33,96% di susul pasangan calon nomor
urut 3 Ali Ibrahim-Muhammad Senen SE
(AMAN) 29,58% dan Pasangan calon nomor
urut 2 M. Hasan Bay-Mochtar Sangaji (FOMARIMOI) memiliki tingkat keterpilihan
27,61%. Sementara 8,85% responden belum tau pilihannya (swing voters).
Direktur IDM), Sutisna mengungkapkan, sesuai survey
dan analisis data melalui jajak pendapat Pemilukada di Maluku Utara dalam
pilkada serentak yang digelar di 6 kabupaten dan 2 kota pada tanggal 24-29 November
2015. Sutisna menyebutkan, jika pemilihan dilakukan tanggal 1 desember 2015
berdasarkan angka persentase tingkat keterpilihan, maka dipastikan pasangan
calon walikota dan wakil walikota nomor urut 1 Drs. Hamid Muhammad-Abdurrahim
Saraha SH (HARISMA) menang pilkada
serentak di Kota Tidore Kepulauan.
Tingginya
angka persentase keterpilihan bagi calon perseorangan (independent) di wilayah
itu karena factor kepercayaan masyarakat Tidore kepulauan terhadap partai
politik yang cendrung menurun. Hal ini
disebabkan karena perilaku politisi partai politik yang tidak disukai
masyarakat. Selain itu, factor lain yang ikut berpengaruh yakni isu-isu
negative di tujukan pada kepribadian pasangan calon nomor urut 2 dan 3 itu.
Dijelaskan,
yang menjadi populasi dalam survey iniyakni seluruh warga negara yang
berdomisili di Kota Tidore Kepulauan dan mempunyai hak pilih dalam pemilihan
umum. IDM hanya menetapkan 2000 orang yang tersebar di 89 kelurahan dan desa
sebagai sampel, tetapi yang berhasil dianalisa hanya 1988 sample. Pemilihan
sample menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat margin
error 2,9%.
Responden
yang terpilih lanjutnya, kemudian diwawancarai secara tatap muka oleh
pewawancara yang telah dilatih. Kualitas kontrol terhadap hasil wawancara
dilakukan secara random sebesar 42% dari total sampel oleh supervisor, yakni
kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam kualitas kontrol
tersebut tidak ditemukan kesalahan berarti. (rdx)
