SOFIFI-Tim sukses Abdul
Gani Kasuba dan M. Natsir Thaib (AGK-Mantab) saat pemilihan gubernur lalu,
tampaknya masih eksis. Padahal tim sukses sudah sukses mengantarkan kandidat
menjadi gubernur dan wakil gubernur, selanjutnya urusan pemerintahan bukan lagi
menjadi wilayah tim. Buktinya, karena gubernur menggunakan kewenangan sebagai
kepala daerah mengangkat pelaksana tugas (Plt) Sekda Mu’abdin karena Sekda
definitif, Majid Husen pensiun, justeru di demo tim sukses yang mengatasnamakan
Tobelo-Galela (Togale).
Mereka demo
lantaran gubernur dianggap tidak mengakomodir calon mereka yang menghendaki Plt
Sekda dijabat Tamrin Amal Tomagola. Tetapi gubernur malah mengangkat asisten
III gubernur Mu’abdin menjadi Plt menggantikan Majid Husen yang memasuki masa
pensiun tanggal 30 November 2015 sambil menunggu proses Sekda definitif.
Gubernur
dianggap berbohong. Mereka mengeluarkan kata-kata yang dianggap menurunkan
kewibawaan gubernur Abdul Gani Kasuba sebagai kepala daerah. Massa yang sudah
anarkis itu, merusak fasilitas bangunan kantor gubernur, kursi dibakar, lampu
hias dan pot bunga depan kantor gubernur yang selama ini pakai upacara dirobohkan.
PNS yang berada di lokasi sekitar tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya menonton.
Demonstran
memperlakukan PNS bagaimana orang hukuman. PNS tak diperbolehkan pulang
menggunakan mobil dinas. Mereka dipaksa berjalan kaki dari kantor gubernur
hingga ke pelabuhan fery dan speadboat. "Janji gubernur waktu Pilkada
Halut, bahwa Sekda adalah orang Halut, tapi kenyataanya kita dibohongi," teriak
Wahyu salah seorang tim sukses gubernur.
Tak hanya
merusak fasilitas kantor gubernur yang menjadi ikon pemerintahan provinsi
Maluku Utara, tapi juga mengancam keselamatan gubernur. Mereka mengancam
membakar mobil dinas apabila gubernur berkunjung ke Halmahera Utara. Langkah
dinilai, kesalamatan gubernur sebagai kepala daerah tak nyaman dan terancam.
Mereka
menilai, gubernur melakukan pembohongan terhadap masyarakat Halmahera Utara.
Bahkan gubernur dianggap tidak tegas mengambil keputusan sehingga dikendalikan
oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Gubernur dibohongi pejabat internal
pemerintah provinsi,” teriak mereka.
Ironisnya,
aksi anarkis itu dibiarkan aparat Kepolisian dan Satpol PP. Aparat keamanan
membiarkan massa merusak fasilitas dan merong-rong kewibawaan gubernur tanpa
tindakan. Mereka malah melipat tangan dan menonton tiang-tiang lampus hiasa
dorobohkan massa yang sudah aksi anarkis itu. (din)
