Mu’abdin Plt Sekda, Gubernur Didemo

Diposting oleh On Tuesday, December 01, 2015



SOFIFI-Tim sukses Abdul Gani Kasuba dan M. Natsir Thaib (AGK-Mantab) saat pemilihan gubernur lalu, tampaknya masih eksis. Padahal tim sukses sudah sukses mengantarkan kandidat menjadi gubernur dan wakil gubernur, selanjutnya urusan pemerintahan bukan lagi menjadi wilayah tim. Buktinya, karena gubernur menggunakan kewenangan sebagai kepala daerah mengangkat pelaksana tugas (Plt) Sekda Mu’abdin karena Sekda definitif, Majid Husen pensiun, justeru di demo tim sukses yang mengatasnamakan Tobelo-Galela (Togale).
Mereka demo lantaran gubernur dianggap tidak mengakomodir calon mereka yang menghendaki Plt Sekda dijabat Tamrin Amal Tomagola. Tetapi gubernur malah mengangkat asisten III gubernur Mu’abdin menjadi Plt menggantikan Majid Husen yang memasuki masa pensiun tanggal 30 November 2015 sambil menunggu proses Sekda definitif.
Gubernur dianggap berbohong. Mereka mengeluarkan kata-kata yang dianggap menurunkan kewibawaan gubernur Abdul Gani Kasuba sebagai kepala daerah. Massa yang sudah anarkis itu, merusak fasilitas bangunan kantor gubernur, kursi dibakar, lampu hias dan pot bunga depan kantor gubernur yang selama ini pakai upacara dirobohkan. PNS yang berada di lokasi sekitar tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya menonton.

Demonstran memperlakukan PNS bagaimana orang hukuman. PNS tak diperbolehkan pulang menggunakan mobil dinas. Mereka dipaksa berjalan kaki dari kantor gubernur hingga ke pelabuhan fery dan speadboat. "Janji gubernur waktu Pilkada Halut, bahwa Sekda adalah orang Halut, tapi kenyataanya kita dibohongi," teriak Wahyu salah seorang tim sukses gubernur.
Tak hanya merusak fasilitas kantor gubernur yang menjadi ikon pemerintahan provinsi Maluku Utara, tapi juga mengancam keselamatan gubernur. Mereka mengancam membakar mobil dinas apabila gubernur berkunjung ke Halmahera Utara. Langkah dinilai, kesalamatan gubernur sebagai kepala daerah tak nyaman dan terancam.
Mereka menilai, gubernur melakukan pembohongan terhadap masyarakat Halmahera Utara. Bahkan gubernur dianggap tidak tegas mengambil keputusan sehingga dikendalikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Gubernur dibohongi pejabat internal pemerintah provinsi,” teriak mereka.
Ironisnya, aksi anarkis itu dibiarkan aparat Kepolisian dan Satpol PP. Aparat keamanan membiarkan massa merusak fasilitas dan merong-rong kewibawaan gubernur tanpa tindakan. Mereka malah melipat tangan dan menonton tiang-tiang lampus hiasa dorobohkan massa yang sudah aksi anarkis itu. (din)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »