![]() |
| ilustrasi |
TIDORE-Seorang
mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik salah satu kampus di
Jakarta asal Tidore, bernam Ismail Ibrahim (23), ditahan Polda Metro Jaya
karena diduga ikut terlibat penyerangan terhadap aparat dalam aksi demo
gubernur petahana Busuki Tjahaya Purnama alias Ahok, 4 Novermber 2016 lalu.
Diketahui, Polisi menangkap mahasiswa
bernama Ismail Ibrahim (23) yang diduga kuat terlibat melakukan penyerangan ke
aparat dalam aksi demo 4 November lalu. Dia diringkus di rumah anggota DPD RI
Basri Salama. "Benar, kami tangkap di lokasi tersebut (rumah Basri
Salama)," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy
F Kurniawan Selasa (8/11).
Informasi yang dihimpun mennyebutkan,
Ismail diringkus di rumah Basri di Jalan Attahiriyah 2, Pejaten Barat, Jakarta
Selatan, Senin (7/11) sekitar pukul 20.00 WIB. Hendy mengatakan, Ismail sudah
setahun tinggal di rumah Basri karena sama-sama berasal dari Kota Tidore
Kepulauan.
Ismail sendiri diketahui merupakan
mahasiswa Universitas Nasional semester V dan menjabat sebagai Ketua
HIMASOS, dan selama di Jakarta tinggal di kawasan Lenteng Agung, Jakarta
Selatan. "Yang bersangkutan tinggal di rumah Basri Salama sejak 2015
karena tidak mampu membayar kontrakan sehingga yang bersangkutan diajak Basri
Salama tinggal di rumah kontrakannya karena masih (berasal dari) satu pulau di
Pulau Tidore," ujarnya.
Hendi menyebut, Ismail merupakan
mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi di
sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan. Dia juga merupakan ketua Himpunan
Mahasiswa Sosiologi. Ismail diduga kuat ikut melakukan penyerangan terhadap
aparat saat terjadi kericuhan di aksi demo 4 November.
"Yang bersangkutan melakukan
penyerangan kepada petugas karena ikut teman yang lain yang sudah melempari dan
menyerang serta terprovokasi oleh kata-kata dari orator di atas mobil komando
untuk tidak takut dan terus maju," jelas Hendy.
"Yang bersangkutan menyerang
petugas sampai dengan massa membubarkan diri malam hari kurang lebih jam 9
malam. Selanjutnya yang bersangkutan pulang ke kontrakannya. Selama dari
tanggal 4 November sampai dengan tertangkap tanggal 7 November yang
bersangkutan tidak pernah dihubungi oleh teman teman HMI untuk membahas terkait
hasil demo tanggal 4 November," sambungnya.
Hendy mengatakan, Ismail diajak ikut
berdemo oleh rekan-rekannya. Dia saat berdemo menggunakan atribut HMI. Selain Ismail,
polisi juga menangkap Sekretaris Jenderal PB HMI Amijaya dan Ketua PTKP HMI
Jakarta Pusat Utara Ranjes Reubun. Keduanya
ditangkap dua lokasi berbeda. Amijaya sendiri ditangkap di Sekretariat PB HMI,
Jalan Sultan Agung No. 25A, Jakarta Selatan. Sementara Ranjers Reuben ditangkap
di Sarinah Tamrin saat sedang bermain biliyard bersama sejumlah warga Ternate sekitar
pukul 22.18 WIB.
Saat penangkapan, sejumlah pengurus PB
HMI sempat bersitegang dengan petugas kepolisian. HMI menganggap tindakan aparat
telah menginjak-injak simbol organisasi. "Ini tak boleh kayak gini, ini
simbol organisasi kami. Bapak polisi sudah menginjak-injak harga diri
organisasi kami," kata salah satu pengurus PB HMI.
Menurut mereka, tindakan polisi yang
dinilai sewanang-wenang itu jajaran PB HMI langsung menyiapkan kuasa hukum
untuk mendampingi para kader tersebut selama menjalani proses hukum.
"Selain sekjen ada empat kader lainnya yang ditangkap polisi. Kita sementara
siapkan tim hukum agar bisa mendampingi mereka. Kami dipersulit oleh penyidik
untuk bisa masuk ke dalam ketemu dengan lima rekan kami," kata Wabendum PB
HMI Tegar Putuhena. Dia menyesalkan tindakan polisi yang menjemput paksa Sekjen
dan empat kader HMI tengah malam. "Ini sudah kayak dizaman PKI saja.
operasinya tengah malam. Alamat PB HMI kan jelas, mestinya pagi atau siang kan
bisa," kata Tegar. Sementara Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir ikut
mendampingi sekjennya saat dibawa menuju Polda Metro Jaya.
Ismail Ibrahim
tercatat sebagai ketua himpunan mahasiswa Sosiologi itu ditangkap belum
diketahui orang tuanya. Orang tuanya baru mengetahu Ibrahim ditangkap, Selasa
(8/11). Ibu Ibrahim, Sarah Lai Cing tak kuasa menahan air mata saat mengetahui
anaknya ditangkap polisi.
Menurut
penuturan ibunya, Ismail dulu tinggal di asrama, namun atas permintaan Basri
Salama untuk tinggal bersamanya. Ia pindah ke rumah Basri Salama sejak bulan
puasa lalu. “Dari tujuh bersaudara, hanya Ibrahim yang kuliah. Ibrahim dikenal
pendiam,” tutur ayahnya, Ibrahim Rongayang, Selasa (8/11).
Ibrahim
merupakan alumni SMA Negeri 2 Toloa. Setelah lulus dari SMA, Ibrahim sempat
istirahat karena ibunya sakit. Meski tak diizinkan kuliah jauh-jauh dari orang
tua, namun tekadnya melanjutkan pendidikan, Ismail memilih ibukota negara
sebagai tempat studinya.
Sebelumnya,
orang tua dan pihak keluarga tak mengetahui Ibrahim ikut demo menutut Ahok
diadili. Namun sebelum demo, Ibrahim sempat memberitahukan, dan pihak keluarga
sempat melihatnya di layar TV, ia berada paling depan. Maklum, Ibrahim
merupakan ketua himpunan mahasiswa Sosiologi.
“Terakhir kami
hubungi, Senin (7/11) sekitar jam 08:00 WIT, namun Ibrahim tak memberi kabar
apa-apa. Ia hanya menanyakan kabar tentang kodisi keluarga. Ibunya takut
Ibrahim ikut demo karena masih sekolah,” ujar pamannya Sabtu Laicin.
Menurut Sabtu,
Ibrahim kuliah dibiayai oleh keluarga, kakak dan adiknya. Hanya mengambil rapor
saat masih di SMP, orang tuanya memberikan tanggung jawab kakaknya menerima
rapor di sekolah. Ibrahim kata Sabtu, delapan bersaudara yakni Ima, Rauf, Isda,
Ridwan, Sofyan, Ismail dan Ida. “Sebagai orang tua, kami berharap Ismail kelak
menjadi anak yang berguna bagi keluarga,” ujar pihak keluarga sambil berlinang
air mata.
Ketua KAHMI
Kota Tidore Kepulauan, Hambali Muhammad mengutuk keras aksi penangkapan
mahasiswa, termasuk Ismail. Hambali yakin, para mahasiswa yang ditangkap bukan
provokator, tapi pejuang. Kemungkinan mereka disusupi sehingga mahasiswa
menjadi korban penangkapan. (dtc/pul)
