Mahasiswa Tidore Ditangkap di Rumah Basri Salama

Diposting oleh On Wednesday, November 09, 2016 with No comments

ilustrasi
TIDORE-Seorang mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik salah satu kampus di Jakarta asal Tidore, bernam Ismail Ibrahim (23), ditahan Polda Metro Jaya karena diduga ikut terlibat penyerangan terhadap aparat dalam aksi demo gubernur petahana Busuki Tjahaya Purnama alias Ahok, 4 Novermber 2016 lalu.
Diketahui, Polisi menangkap mahasiswa bernama Ismail Ibrahim (23) yang diduga kuat terlibat melakukan penyerangan ke aparat dalam aksi demo 4 November lalu. Dia diringkus di rumah anggota DPD RI Basri Salama. "Benar, kami tangkap di lokasi tersebut (rumah Basri Salama)," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan Selasa (8/11).
Informasi yang dihimpun mennyebutkan, Ismail diringkus di rumah Basri di Jalan Attahiriyah 2, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Senin (7/11) sekitar pukul 20.00 WIB. Hendy mengatakan, Ismail sudah setahun tinggal di rumah Basri karena sama-sama berasal dari Kota Tidore Kepulauan.
Ismail sendiri diketahui merupakan mahasiswa Universitas Nasional semester V  dan menjabat sebagai Ketua HIMASOS, dan selama di Jakarta tinggal di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. "Yang bersangkutan tinggal di rumah Basri Salama sejak 2015 karena tidak mampu membayar kontrakan sehingga yang bersangkutan diajak Basri Salama tinggal di rumah kontrakannya karena masih (berasal dari) satu pulau di Pulau Tidore," ujarnya.
Hendi menyebut, Ismail merupakan mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi di sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan. Dia juga merupakan ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi. Ismail diduga kuat ikut melakukan penyerangan terhadap aparat saat terjadi kericuhan di aksi demo 4 November.
"Yang bersangkutan melakukan penyerangan kepada petugas karena ikut teman yang lain yang sudah melempari dan menyerang serta terprovokasi oleh kata-kata dari orator di atas mobil komando untuk tidak takut dan terus maju," jelas Hendy.
"Yang bersangkutan menyerang petugas sampai dengan massa membubarkan diri malam hari kurang lebih jam 9 malam. Selanjutnya yang bersangkutan pulang ke kontrakannya. Selama dari tanggal 4 November sampai dengan tertangkap tanggal 7 November yang bersangkutan tidak pernah dihubungi oleh teman teman HMI untuk membahas terkait hasil demo tanggal 4 November," sambungnya.
Hendy mengatakan, Ismail diajak ikut berdemo oleh rekan-rekannya. Dia saat berdemo menggunakan atribut HMI. Selain Ismail, polisi juga menangkap Sekretaris Jenderal PB HMI Amijaya dan Ketua PTKP HMI Jakarta Pusat Utara Ranjes Reubun. Keduanya ditangkap dua lokasi berbeda. Amijaya sendiri ditangkap di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung No. 25A, Jakarta Selatan. Sementara Ranjers Reuben ditangkap di Sarinah Tamrin saat sedang bermain biliyard bersama sejumlah warga Ternate sekitar pukul 22.18 WIB.
Saat penangkapan, sejumlah pengurus PB HMI sempat bersitegang dengan petugas kepolisian. HMI menganggap tindakan aparat telah menginjak-injak simbol organisasi. "Ini tak boleh kayak gini, ini simbol organisasi kami. Bapak polisi sudah menginjak-injak harga diri organisasi kami," kata salah satu pengurus PB HMI.
Menurut mereka, tindakan polisi yang dinilai sewanang-wenang itu jajaran PB HMI langsung menyiapkan kuasa hukum untuk mendampingi para kader tersebut selama menjalani proses hukum. "Selain sekjen ada empat kader lainnya yang ditangkap polisi. Kita sementara siapkan tim hukum agar bisa mendampingi mereka. Kami dipersulit oleh penyidik untuk bisa masuk ke dalam ketemu dengan lima rekan kami," kata Wabendum PB HMI Tegar Putuhena. Dia menyesalkan tindakan polisi yang menjemput paksa Sekjen dan empat kader HMI tengah malam. "Ini sudah kayak dizaman PKI saja. operasinya tengah malam. Alamat PB HMI kan jelas, mestinya pagi atau siang kan bisa," kata Tegar. Sementara Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir ikut mendampingi sekjennya saat dibawa menuju Polda Metro Jaya.
Ismail Ibrahim tercatat sebagai ketua himpunan mahasiswa Sosiologi itu ditangkap belum diketahui orang tuanya. Orang tuanya baru mengetahu Ibrahim ditangkap, Selasa (8/11). Ibu Ibrahim, Sarah Lai Cing tak kuasa menahan air mata saat mengetahui anaknya ditangkap polisi.
Menurut penuturan ibunya, Ismail dulu tinggal di asrama, namun atas permintaan Basri Salama untuk tinggal bersamanya. Ia pindah ke rumah Basri Salama sejak bulan puasa lalu. “Dari tujuh bersaudara, hanya Ibrahim yang kuliah. Ibrahim dikenal pendiam,” tutur ayahnya, Ibrahim Rongayang, Selasa (8/11).
Ibrahim merupakan alumni SMA Negeri 2 Toloa. Setelah lulus dari SMA, Ibrahim sempat istirahat karena ibunya sakit. Meski tak diizinkan kuliah jauh-jauh dari orang tua, namun tekadnya melanjutkan pendidikan, Ismail memilih ibukota negara sebagai tempat studinya.
Sebelumnya, orang tua dan pihak keluarga tak mengetahui Ibrahim ikut demo menutut Ahok diadili. Namun sebelum demo, Ibrahim sempat memberitahukan, dan pihak keluarga sempat melihatnya di layar TV, ia berada paling depan. Maklum, Ibrahim merupakan ketua himpunan mahasiswa Sosiologi.
“Terakhir kami hubungi, Senin (7/11) sekitar jam 08:00 WIT, namun Ibrahim tak memberi kabar apa-apa. Ia hanya menanyakan kabar tentang kodisi keluarga. Ibunya takut Ibrahim ikut demo karena masih sekolah,” ujar pamannya Sabtu Laicin.
Menurut Sabtu, Ibrahim kuliah dibiayai oleh keluarga, kakak dan adiknya. Hanya mengambil rapor saat masih di SMP, orang tuanya memberikan tanggung jawab kakaknya menerima rapor di sekolah. Ibrahim kata Sabtu, delapan bersaudara yakni Ima, Rauf, Isda, Ridwan, Sofyan, Ismail dan Ida. “Sebagai orang tua, kami berharap Ismail kelak menjadi anak yang berguna bagi keluarga,” ujar pihak keluarga sambil berlinang air mata.
Ketua KAHMI Kota Tidore Kepulauan, Hambali Muhammad mengutuk keras aksi penangkapan mahasiswa, termasuk Ismail. Hambali yakin, para mahasiswa yang ditangkap bukan provokator, tapi pejuang. Kemungkinan mereka disusupi sehingga mahasiswa menjadi korban penangkapan. (dtc/pul)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »