JAILOLO-Pencairan Bantuan Sosial (Bansos) tahun 2015, yang direalisasi melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), untuk pembangunan geraja GMIH Desa Ngawet, Kecamatan Ibu Selatan diduga fiktif.
Anggaran sebesar Rp. 50 juta yang dicairkan Bulan Oktober 2015 kemarin, tidak diterima panitia. Proses pencarian Bansos, itu diduga ada keterlibatan pihak lain yang belum diketahui.
Hal itu terkuak ketika tim dari Dinas Sosial Nakertrans dan PPh Halmahera Barat, turun memastikan di lapangan atas pencairan Bansos tahun kamarin. Dan baru diketahui Pdt. Frans Sadja, ketua Panitia pembangunan Gereja Sefnat Bone, Kepala Bas Nikodemus Dorado dan Jema’at Gereja GMIH Ngawet.
“Sebelumnya, kami belum tau bahwa ternyata ada pencairan sebesar Rp 50 Juta, tetapi setelah petugas Dinsosnakertrans turun ke lapangan baru ketahuan ternyata anggaran itu belum tersalur ke kami untuk pembangunan Gereja,”ungkap Pdt. Frans Satdja kepada koran ini, Kamis (03/11).
Untuk itu, lanjut Pdt. Frans, dia langsung mendatangi bendahara Bansos BPKAD Samuel Huliselan, untuk memastikan kebenarannya, ternyata benar sudah ada pencairan yang dikeluarkan atas nama dia (Pdt. Frans, red), membuatnya terkejut karena terdapat pemalsuan tanda tangan. Sebab, tanda tangannya ditiru oleh orang lain.
Hal ini kemudian dilaporkan ke Polres Halmahera Barat untuk menindaklanjuti tindakan pemalsuan tandatangan yang telah mencederai nama baiknya dan realisasi anggaran Geraja sebesar Rp 50 juta.
“Ternyata ada pencairan bantuan Gereja sejak tahun kemarin, tetapi tidak sampai ke kami, maka saya langsung memastikan di bagian bendahara bansos, ternyata ada tanda tangan pencairan yang mengatasnamakan saya yang dilakukan orang lain. Dengan begitu, saya langsung laporkan masalah itu ke pihak kepolisian. Karena saya dirugikan,” tandasnya.
Terpisah Kasat Reskrim Polres Halbar AKP Sinar Samsu, saat dikonfirmasi via handphone, mengatakan, belum menerima laporan itu, mungkin masih berada di SPKT. Jika sudah menerima laporannya, dipastikan akan ditindaklanjuti tetapi sebelumnya akan dipelajari dulu. (dx)
Anggaran sebesar Rp. 50 juta yang dicairkan Bulan Oktober 2015 kemarin, tidak diterima panitia. Proses pencarian Bansos, itu diduga ada keterlibatan pihak lain yang belum diketahui.
Hal itu terkuak ketika tim dari Dinas Sosial Nakertrans dan PPh Halmahera Barat, turun memastikan di lapangan atas pencairan Bansos tahun kamarin. Dan baru diketahui Pdt. Frans Sadja, ketua Panitia pembangunan Gereja Sefnat Bone, Kepala Bas Nikodemus Dorado dan Jema’at Gereja GMIH Ngawet.
“Sebelumnya, kami belum tau bahwa ternyata ada pencairan sebesar Rp 50 Juta, tetapi setelah petugas Dinsosnakertrans turun ke lapangan baru ketahuan ternyata anggaran itu belum tersalur ke kami untuk pembangunan Gereja,”ungkap Pdt. Frans Satdja kepada koran ini, Kamis (03/11).
Untuk itu, lanjut Pdt. Frans, dia langsung mendatangi bendahara Bansos BPKAD Samuel Huliselan, untuk memastikan kebenarannya, ternyata benar sudah ada pencairan yang dikeluarkan atas nama dia (Pdt. Frans, red), membuatnya terkejut karena terdapat pemalsuan tanda tangan. Sebab, tanda tangannya ditiru oleh orang lain.
Hal ini kemudian dilaporkan ke Polres Halmahera Barat untuk menindaklanjuti tindakan pemalsuan tandatangan yang telah mencederai nama baiknya dan realisasi anggaran Geraja sebesar Rp 50 juta.
“Ternyata ada pencairan bantuan Gereja sejak tahun kemarin, tetapi tidak sampai ke kami, maka saya langsung memastikan di bagian bendahara bansos, ternyata ada tanda tangan pencairan yang mengatasnamakan saya yang dilakukan orang lain. Dengan begitu, saya langsung laporkan masalah itu ke pihak kepolisian. Karena saya dirugikan,” tandasnya.
Terpisah Kasat Reskrim Polres Halbar AKP Sinar Samsu, saat dikonfirmasi via handphone, mengatakan, belum menerima laporan itu, mungkin masih berada di SPKT. Jika sudah menerima laporannya, dipastikan akan ditindaklanjuti tetapi sebelumnya akan dipelajari dulu. (dx)
