![]() |
| (ilustrasi) |
SANANA-Sebanyal 181 guru
di kabupaten Kepulauan Sula menggelar unjuk rasa di depan kantor bupati dan
kantor dinas pendidikan setempat, Senin (28/12) karena kecewa dengan penjabat
bupati, Mohtar Umamit yang melakukan mutasi beberapa waktu lalu, dan akhirnya
kebijakan mutasi tersebut mendapat teguran Menteri Dalam Negeri (Mendagri).
Sebab itu, 181 guru
tersebut mendesak penjabat bupati segera membatalkan keputusannya sekaligus
mengembalikan para guru ke tempat semula. Para guru selain berorasi, juga mengamuk
di kantor dinas pendidikan setempat. Mereka meneriakkan kalimat-kalimat Kadis
Pendidikan Amate Fokatea tak tahu aturan.
Aksi para pahlawan tanpa
tanda jasa ini nyaris menimbulkan bentrok dengan staf yang hendak membela
kehormatan atasannya. Untung saja segera diamankan Satpol PP dibantu aparat
kepolisian. Asisten
III Ahmad Salawane dan Asisten I Misba lansung memanggil kepala Dinas
Pendidikan Amate Fokatea dan mantan Kepala Dinas Pendidikan Ali Umanahu, Kabag
Humas dan Protokol Syafrudin Buamona ke
ruangan
Asisten III. Tujuannya, berkoordinasi dengan penjabat bupati.
Koordinasi melalui
handphone guna meminta arahan penjabat bupati karena para guru semakin
beringas. Usai berkoordinas dengan penjabat bupati, Asisten II Ahmad Salawane
menggelar hearing terbuka dengan para guru di depan kantor bupati menyampaikan pesan
Mohtar Umamit. Dalam hearing itu, Ahmad Salawane berkapasitas sebagai Plh
bupati.
“Apa yang yang menjadi tuntutan dan keinginan
para guru telah kami sampaikan kepada penjabat bupati. Beliau mengatakan,
guru-guru yang telah dimutasikan berkeinginan masuk kantor kantor
dipersilahkan. Rabu (hari ini-red) penjabat bupati tiba baru diselesaikan.
Silahkan kembali ke sekolah masing-masing untuk duduk diam dan menyelesaikan
pekerjaan yang menjadi tanggung jawab,” pinta Ahmad Salawane. (sdl)
