![]() |
| (ilustrasi) |
MABA-Pasangan calon bupati dan wakil
bupati Halmahera Timur, Anjas Taher dan Nurdin Abas, yang selama ini
disebut-sebut-sebut menjadi calon boneka, ternyata memiliki tingkat
keterpilihan cukup tinggi di atas 50 persen dan berpeluang menang Pilkada
serentak kabupaten Halmahera Timur 9 Desember 2015.
Berdasarkan
hasil survey Lembaga Survey dan Kajian Politik Indonesia Development Monitoring
(IDM) menempatkan, pasangan An-Nur memiliki tingkat keterpilihan 52,68 persen. Direktur
survey dan analisis data IDM, Sutisna mengungkapkan, jajak pendapat dalam
pilkada serentak yang digelar di 6 kabupaten dan 2 kota sejak tanggal 10
0ktober-22 November 2015, pasangan nomor urut 1 berada di poisis teratas.
Angka
prosentasi ini menurutnya, secara mutlak akan mengalahkan rival politik pasangan
petahana nomor urut 2, Rudy Erawan dan Muhdin Hi. Ma’bud (Rudi-Din). Pasangan Rudi-Din hanya meraih 30,57 persen,
sementara responden yang belum menentukan pilihann sebanyak 16,75%. Merosotnya tingkat
keterpilihan calon icumbant kata Sutisna akibat faktor ketidakpuasan publik
Halmahera Timur terhadap kepemimpin selama 5 tahun pemerintahan Rudi-Din.
“Ketidakpuasan
warga Halmahera Timur terhadap kinerja Pemda selama pemerintahan Rudy-Din terdapat
9 permasalahan yang ditampilkan dalam survei yakni fasilitas jalan, lapangan
kerja, listrik, kesejahteraan ekonomi masyarakat, nilai jual hasil tani,
sengketa lahan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan dan fasilitas
transportasi umum. “Jika dirata-ratakan hampir mencapai 89% warga Haltim merasa
tidak puas,” tuturnya.
Sutisna
menjelaskan, selain itu, factor lain yang ikut mempengaruhi tingkat
keterpilihan Rudi-Din adalah pemilih. Beralihnya pendukung beberapa tokoh
masyarakat dan tokoh politik yang tidak dapat mencalonkan diri pada pilkada
serentak 2015 karena tidak mendapatkan dukungan partai politik, termasuk PDIP.
Yang
menjadi populasi survei ini yakni seluruh warga negara yang berdomisili di
kabupaten Halmahera Timur dan mempunyai hak pilih dalam pemilihan umum. IDM
hanya menetapkan 5.000 orang yang tersebar di 102 desa sebagai sampel, tetapi
yang berhasil dianalisa hanya 4947 sample. Pemilihan sample menggunakan metode
multistage random sampling.
Responden
yang terpilih katanya, kemudian diwawancarai secara tatap muka oleh pewawancara
yang telah dilatih. Kualitas kontrol terhadap hasil wawancara dilakukan secara
random sebesar 42% dari total sampel supervisor, yakni kembali mendatangi responden
terpilih (spot check). Dalam kualitas kontrol tersebut tidak ditemukan
kesalahan berarti. (rdx)
