Para Balon Bupati Morotai Adu Kuat

Diposting oleh On Tuesday, October 18, 2016 with No comments

Ramli Yaman-Ajan Djaguna (RADJA)
MOROTA-Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Morotai yang akan digelar pada 2017 mendatang nampaknya sudah melupakan asas demokrasi dan toleransi, yang mengajarkan untuk saling menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi toleransi yang tidak bisa mewarnai serta menjiwai dalam proses politik yang terjadi di Morotai.
Akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Kabupaten Pulau Morotai Sukri Ali, kepada Seputar Malut, Senin (17/10) mengatakan, Perilaku yang dilakukan para elit pemangku kepentingan para calon kandidat, nampaknya tidak mencerminkan sportifitas antar sesama, sosialisasi yang dilakukan bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati terkesan saling menyerang dan menjatuhkan." Kami menilai sosialisasi yang dilakukan para balon dan tim-timnya terlalu kerdil, tidak mencerminkan pendidikan politik yang baik,"Ungkap Sukri.
Menurutnya, dalam melakukan sosialisasi bagi balon bupati dan wakil bupati, tim sukses seharusnya bisa mendorong isu-isu programatis dan visi-misinya, agar publik tidak memilih kucing dalam karung, artinya tidak saling menjatuhkan, namun bisa mengembangkan yang jadi misi dan misinya dalam membangun Morotai ke depan,"Morotai adalah daerah baru, yang butuh pemimpin yang paham dengan Morotai, tidak dengan iming-iming yang nantinya akan membodohi daerah, karena yang akan jadi korban adalah masyarakat," Cetusnya.
Sukri juga mencontohkan, seperti yang terjadi di media sosial (medsos) misalnya facebook, bbm, ataupun whats App. Dalam penyampaian-penyampaian yang diutarakan oleh para kandidat maupun oleh tim suksesnya terkesan saling menjatuhkan, tidak mencerminkan dinamika budaya demokrasi yang baik, seperti menghargai perbedaan, toleransi dan sikap sportifitas."Sudah saatnya lembaga yang diberi kewenangan oleh UU untuk mengontrol dan menertibkan setiap prosesi kampanye yang bertentangan dengan UU dan prinsip berdemokrasi. Saya sarankan kepada semua kandidat dan tim sukses agar setiap perilaku politiknya harus disertai dengan nilai etika politik, agar tidak terkesan liar, karena Morotai mencari pemimpin yang bijak dan paham dengan Morotai, bukan pemimpin yang hanya memanfaatkan daerah atau masyarakat," Tegasnya.(wis)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »