![]() |
| Ramli Yaman-Ajan Djaguna (RADJA) |
MOROTA-Pelaksanaan
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Morotai yang akan digelar pada 2017
mendatang nampaknya sudah melupakan asas demokrasi dan toleransi, yang
mengajarkan untuk saling menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi
toleransi yang tidak bisa mewarnai serta menjiwai dalam proses politik
yang terjadi di Morotai.
Akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Kabupaten Pulau Morotai Sukri Ali, kepada Seputar Malut, Senin (17/10) mengatakan, Perilaku yang dilakukan para elit pemangku kepentingan para calon kandidat, nampaknya
tidak mencerminkan sportifitas antar sesama, sosialisasi yang dilakukan
bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati terkesan saling menyerang
dan menjatuhkan." Kami
menilai sosialisasi yang dilakukan para balon dan tim-timnya terlalu
kerdil, tidak mencerminkan pendidikan politik yang baik,"Ungkap Sukri.
Menurutnya, dalam melakukan sosialisasi bagi balon bupati dan wakil bupati, tim
sukses seharusnya bisa mendorong isu-isu programatis dan visi-misinya,
agar publik tidak memilih kucing dalam karung, artinya tidak saling
menjatuhkan, namun bisa mengembangkan yang jadi misi dan misinya dalam
membangun Morotai ke depan,"Morotai adalah daerah baru, yang butuh
pemimpin yang paham dengan Morotai, tidak dengan iming-iming yang
nantinya akan membodohi daerah, karena yang akan jadi korban adalah
masyarakat," Cetusnya.
Sukri
juga mencontohkan, seperti yang terjadi di media sosial (medsos)
misalnya facebook, bbm, ataupun whats App. Dalam penyampaian-penyampaian
yang diutarakan oleh para kandidat maupun oleh tim suksesnya terkesan
saling menjatuhkan, tidak mencerminkan dinamika budaya demokrasi yang
baik, seperti menghargai perbedaan, toleransi dan sikap
sportifitas."Sudah saatnya lembaga yang diberi kewenangan oleh UU untuk
mengontrol dan menertibkan setiap prosesi kampanye yang bertentangan
dengan UU dan prinsip berdemokrasi. Saya sarankan kepada semua kandidat
dan tim sukses agar setiap perilaku politiknya harus disertai dengan
nilai etika politik, agar tidak terkesan liar, karena Morotai mencari
pemimpin yang bijak dan paham dengan Morotai, bukan pemimpin yang hanya
memanfaatkan daerah atau masyarakat," Tegasnya.(wis)

