![]() |
| (lustrasi) |
SANANA-Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) kecamatan
Mangoli Selatan di desa Buya kabupaten Kepulauan Sula, Muhammad M. Suratin
diduga memalak honor perawat di Puskesmas tersebut. Tak puas dengan honor
perawat, Suratin balik ‘menyerang’ anggaran Badan Peneyelenggara Jamin Sosial
(BPJS) dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Padahal BOK seharusnya diberikan kepada bidan karena itu
anggaran kegiatan tenaga perawat di desa-desa. Para perawat disana mengaku
mengetahui ada anggaran BOK, namun saat kegiatan mereka tak diberikan honor.
“Dalam BOK apabila ada kegiatan, ada honor untuk tenaga perawat, namun kita
tidak pernah diberikan,” ujar seorang perawat yang meminta tak ditulis namanya,
Selasa (24/11).
Dijelaskan, anggaran BPJS dalam sebulan dianggarkan
sebesar Rp. 5 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk melayani pasien yang
memiliki kartu BPJS. Sementara dana BOK sebesar Rp. 18 juta per bulan. Anggaran
tersebut digunakan untuk kegiatan imunisasi, gizi, pusling, KIA dan promosi
tenaga kesehatan di desa-desa. Namun mereka yang bekerja melayani masyakat
pulang dengan tangan kosong, karena honor mereka dipalak habis kepala
puskesmas. “Kami tak diberikan honor melalui BPJS dan dana BOK sudah sejak
tahun 2014,” ungkapnya.
Tak cukup mengkorup hak perawat, Muhammad M. Suratin juga menjual 1 buah mesin tepel 40 PK milik Puskesmas Mangoli Selatan. Namun saat ditanya, Suratin mengaku mesin tersebut rusak dan sementara diperbaiki di Sanana. Malah saat ini Puskesmas tersebut mendapat sebuah mesin baru 40 PK tak diketahui dimana rimbanya. Sementara Suratin hingga berita ini naik cetak belum berhasil dikonfirmasi. (sdl)
