![]() |
| ilustrasi |
WEDA-Kantor dan
sejumlah fasilitas dan kendaraan PT. Fajar Bakti Lintas Nusantara (FBLN),
sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di Pulau Gebe, Halmahera Tengah
dirusak massa gabungan 8 desa yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda dan
Masyarakat Pulau Gebe. Pengrusakan itu dilakukan lantaran kecewa dengan pihak perusahaan
yang berjanji akan membantu penerangan listrik tak ditepati.
Massa yang berjumlah sekitar 2 ribu
orang itu merusak kantor PT. FBLN, termasuk 5 unit truk antar jemput karyawan, 4
unit kendaraan Ford Ranger (kacah pecah), 1 unit kendaraan Hiluxd, Mess FBLN.
Sedangkan dari warga yang menjadi korban lemparan batu yakni Andi (32), warga desa
Kacepi, Farid Kabir (26) desa Sanafi Maming, Nurnia (27) warga desa
Kacepi dan Ansar (30) dari desa Kapaleo. Tak hanya itu, massa memboikot seluruh
aktivitas perusahaan mulai jam 11:00 hingga pukul 15:00 WIT.
Aksi ini bertindak sebagai Koolap Malik
Sumpap dan Salim Rabbo, Ketua Pemuda desa Sanafi Mamim. Sedangkan orator terdiri
dari Abdul Rakib Rabo, Ketua PGRI Pulau Gebe, Ahdan Djalil, Ketua SPSI kecamatan
Gebe, Khusnul, mahasiswa dengan jumlah massa diperkirakan mencapai 2 ribu
orang.
Massa gabungan 8 desa ini menggunakan kendaraan
100 sepeda motor, dan 20 mobil lengkap dengan sound system dengan titik kumpul
di lapangan volly desa Elfanun, sebelum bergerak ke lokasi perusahaan. Selain itu,
sebagian massa lain yang terdiri dari masyarakat dan siswa berjalan kaki ke
lokasi perusahaan berjarak sekitar 2 kilometer.
Massa menuntut, penerangan listrik kembali
dinormalkan. Akibat tidak ada penerangan menghambat aktifitas. Disamping itu melumpuhkan
aktifitas perekonomian, pendidikan, kesehatan, ibadah dan kegiatan sosial lain di
Pulau Gebe terganggu.
Beberapa saat melakukan aksi, pihak
perusahaan tak menemui massa. Akibatnya, massa mulai anarkis berusaha menerobos
blokade keamanan di pintu portal area perusahaan. General Manager PT. FBLN Site
Pulau Gebe, Majid Husen menemui massa dan memberikan penjelasan bahwa pimpinan FBLN
menyatakan akan membantu penerangan. “Malam ini juga listrik di pulau Gebe akan
dinyalakan. Masyarakat malam ini juga bisa dinikmati penerangan," ujar Majid
mencoba menenangkan massa.
Meski diberi penjelasan, massa yang sudah
terlanjur emosi berhasil menerobos blokade aparat keamanan yang berjaga di
pintu masuk menuju office Situ FBLN. Tujuan mereka ingin menemui dan menyampaikan
aspirasi langsung kepada pimpinan, Caroline.
Melihat emosi massa mulai tak
terkendali, Kabinda Maluku Utara, Brigjen TNI Hendi Geniardi berusaha
menenangkan emosi massa yang mulai tak terkendali. Jenderal bintang satu
inimengatakan, akan membantu mengkomonikasikan dengan pimpinan perusahaan untuk
segera membuat keputusan tertulis. Hendi juga menyatakan siap membantu
mendorong Pemda Halmahera Tengah dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara
merealisasikan jaringan PLN yang didukung dengan APBD.
Selain Kabinda, Ketua DPRD Halteng,
Rusmini Sadaralam juga menemui massa. Dihadapan massa, Rusmini berjanji akan menindaklanjuti
keinginan masyarakat mereaalisasi listrik di Pulau Gebe. "Saya mohon
pimpinan PT. FBLN segera mengeluarkan keputusan bantuan penerangan listrik
kepada masyarakat Pulau Gebe," tegas Rusmini.
Sekitar jam 12.30 Wit, pimpinan FBLN Caroline
menemui massa. Dihadapan massa Caroline menyampaikan bahwa keinginan masyarakat
akan direalisasikan. Perusahaan berupaya membantu dengan keadaan yang ada saat ini.
Perusahan akan memberikan bantuan penerangan dan bantuan BBM. "Perusahaan
hanya bisa membantu hingga Desember mengingat Perusahaan saat ini mengalami devisit,"
jelasnya.
Penjelasan Caroline tak membuat massa tenang.
Mereka kembali anarkis dan berusaha masuk kantor FBLN. Untuk menenangkan massa,
BKO Brimob terpaksa melepas tembakan ke udara. Kondisi ini membuat massa tambah
emosi dan merusak fasilitas berupa AC di ruangan kantor serta memecahkan kaca
jendela.
Massa juga membakar sebuah mobil Avanza
milik perusahaan dan bangkainya dibuang ke laut. Akibat massa mendesak
perusahaan segera menarik kabel dari perusahaan ke mesin PLTD berjarak sekitar
2 Km tak ditanggapi. Menurut mereka, selama belum ada kejelasan perusahaan,
perusahaan tak boleh beroperasi.
Massa menginginkan bantuan penerangan
listrik direalisasikan hingga Januari atau selama PLN belum masuk ke Pulau Gebe.
Perusahaan diminta bertanggung jawab memberikan penerangan di Pulau Gebe. Jika
itu tak dipenuhi, perusahaan siap-siap angkat kaki dari Pulau Geber.
Usai menggelar aksi, sekitar pukul 15:00
Wit massa meninggalkan lokasi perusahan dan kembali ke kampung masing-masing
dengan berjalan kaki dikawal 1 regu Brimob, Polsek dan Koramil Pulau Gebe. Sebagai
inspirasi masyarakat yakni Ketua DPRD Halteng Rusmini Sadaralam didampingi Camat
Gebe Awaludin Pataha. Aksi ini dihadiri pula 8 Kades, ketua pemuda, tokoh masyarakat,
guru-guru serta Siswa SMA, pegawai serta Bidan/ Mantri Puskesmas Gebe dan
Ibu-ibu.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi
aksi susulan, Polres Halmahera Tengah akan menambah personil keamanan sebanyak 30
orang Sabhara Polda Malut, 50 anggota Brimob Polda dan 15 anggota Polres
Halteng. "Ada permintaan tambahan
pasukan, maka Polres mengirim pasukan ke Gebe," ujar Kassat Sabhara Polres Halteng, Iptu
Djamaludin. (hrn)
