Ismail Minta Bukunya Dibawa ke Tahanan

Diposting oleh On Thursday, November 10, 2016 with No comments

JAKARTA-Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ismail Ibrahim (23) sempat menitipkan pesan kepada istri Anggota DPD RI Basri Salama tidak lama setelah polisi menangkapnya. Ismail meminta agar buku-buku miliknya dibawa ke tahanan. "Kalau saya ditahan, tolong bawakan buku untuk saya," kata Basri menirukan ucapan Ismail kepada istrinya.
Menurut Basri, Ismail memang gemar membaca berbagai buku untuk dijadikan referensi perkuliahan maupun aktivitas berorganisasi. Dikatakannya, berbagai buku mulai dari pelajaran, hingga filsafat dibaca oleh pria asal Tidore tersebut. "Jadi memang anak ini (Ismail Ibrahim) rajin membaca. Buku-bukunya banyak untuk dibacanya. Semalam pun ia berpesan agar membawakan bukunya kalau ia sampai ditahan," kata Basri.
Saking banyaknya buku milik Ismail lanjut Basri sampai mengalahkan jumlah baju yang dibawa saat pindah ke kediaman Basri. Dikatakannya, buku-buku milik Ismail saat pindah ke kediamannya mencapai dua kardus, sementara baju-bajunya hanya satu kardus. "Anak ini sangat menggemari buku. Kalau saya kasih uang, uang itu selalu dibelikan buku. Buku apa saja ia baca," tutur Basri Salama.
Masih kata Basri, semenjak Ismail tinggal di rumahnya, tidak banyak tingkah aneh yang dilakukan Ismail yang kini menempuh kuliah semester 5 di sebuah kampus swasta di Jakarta. Menurutnya, Ismail merupakan sosok yang taat beribadah dan pintar mengaji. "Anaknya taat beribadah, ngajinya fasih. Dia juga rajin membantu saya di rumah ini, seperti beres-beres rumah atau menjaga anak saya," kata Basri.
Basari menceritakan sosok aktivis HMI Ismail Ibrahim. Ismail dikenalnya sebagai sosok yang sederhana. Saking sederhananya, kemeja yang dikenakan Ismail pun selalu sama dalam setiap kesempatan. Kemeja yang dipakai Ismail itu pun membuat publik dapat dengan mudah mengenali mahasiswa semester lima ini. Pasalnya foto Ismail yang terlihat marah di depan Istana Negara memakai kemeja yang sama di berbagai kesempatan.
Kemeja yang dimaksud Basari bermotif kotak-kotak diagonal dan berlengan pendek. "Kemeja Ismail yang muncul di viral media memang itu yang selalu dipakai. Karena dia memang orang yang sederhana," kata Basari. Senator asal Tidore itu menuturkan, dirinya kerap memberikan baju kepada Ismail untuk digunakan saat berkuliah. Namun, Ismail kerap menolak pemberian dari Basari. "Dia itu tidak mudah menerima pemberian orang lain. Kalau saya tidak paksa pakai baju dari saya, dia tidak mau memakainya," tutur Basari Salama.
Masih kata Basari, mengenai kemeja yang dipakai Ismail, menurutnya itu ciri khas dari mahasiswa semester lima itu. Dikatakannya, setiap habis memakai kemeja tersebut, Ismail selalu mencucinya untuk dipakai keesokan harinya. "Kalau kemeja itu dipakai, malamnya dicuci dan besoknya dipakai lagi. Itu yang selalu dilakukan sama Ismail," tutur Basari Salama.
Kesederhanaan Ismail, kata Basari juga dapat dilihat kesehariannya saat menjalani perkuliahan. Dikatakannya, ia sudah menyediakan sepeda motor untuk Ismail berkuliah, namun kendaraan roda dua itu tidak dipakainya. "Kuliah saja jalan kaki, pergi-pulang jalan kaki. Ada motor tapi tidak dipakai," ucap Basari Salama.
Lebih jauh Basari mengatakan, semangat Ismail untuk belajar di Jakarta cukup besar. Ismail mencari uang selama satu tahun agar bisa menempuh pendidikan di Ibu Kota. "Dia setelah lulus SMA selama setahun bekerja mencari uang, dan uang itu digunakan untuk kuliah di Jakarta," kata Basari Salama.
Sementara Universitas Nasional (Unas) menyerahkan nasib salah satu mahasiswanya, Ismail Ibrahim (23) yang ditangkap polisi karena diduga biang kerusuhan aksi 4 November, Jumat pekan lalu. Kepala Bidang Humas Universitas Nasional Dian Metha mengatakan, pihaknya menunggu proses penyelidikan Polda Metro Jaya terhadap Ismail. "Sikap kampus adalah melihat dan memantau proses hukum yang berlaku. Apakah memang dia bersalah atau tidak kita serahkan proses hukum ke aparat," kata Dian di Jakarta, Rabu (9/11).
Ismail adalah mahasiswa jurusan Sosiologi Unas, semester lima. Aksinya di 4 November pekan lalu terekam tengah mengayunkan sebilah bambu ke arah aparat. Ismail ditangkap di kediaman seorang anggota DPD asal Maluku Utara Basri Salama di Jalan Attahiriyah, Pejaten Barat, Jakarta Selatan.
Menurut Dian, pihaknya tidak menghalangi sikap politik setiap mahasiswanya. Namun dia menyarankan mahasiswanya tidak menggunakan atribut kampus dalam setiap aksi. "Kalau ingin menyalurkan hak politik, monggo (silahkan), tapi tidak menggunakan atribut kampus," ujar Dian. "Kelimanya berstatus sebagai tersangka. Sudah dilakukan penyelidikan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Awi Setiyono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa kemarin. (lp6)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »