JAKARTA-Kader Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Ismail Ibrahim (23) sempat
menitipkan pesan kepada istri Anggota DPD RI Basri Salama tidak lama
setelah polisi menangkapnya. Ismail meminta agar buku-buku miliknya dibawa ke
tahanan. "Kalau saya ditahan, tolong bawakan buku untuk saya," kata
Basri menirukan ucapan Ismail kepada istrinya.
Menurut Basri, Ismail memang gemar
membaca berbagai buku untuk dijadikan referensi perkuliahan maupun aktivitas
berorganisasi. Dikatakannya, berbagai buku mulai dari pelajaran, hingga
filsafat dibaca oleh pria asal Tidore tersebut. "Jadi memang anak ini
(Ismail Ibrahim) rajin membaca. Buku-bukunya banyak untuk dibacanya. Semalam
pun ia berpesan agar membawakan bukunya kalau ia sampai ditahan," kata
Basri.
Saking banyaknya buku milik Ismail
lanjut Basri sampai mengalahkan jumlah baju yang dibawa saat pindah ke kediaman
Basri. Dikatakannya, buku-buku milik Ismail saat pindah ke kediamannya mencapai
dua kardus, sementara baju-bajunya hanya satu kardus. "Anak ini sangat
menggemari buku. Kalau saya kasih uang, uang itu selalu dibelikan buku. Buku
apa saja ia baca," tutur Basri Salama.
Masih kata Basri, semenjak Ismail
tinggal di rumahnya, tidak banyak tingkah aneh yang dilakukan Ismail yang kini
menempuh kuliah semester 5 di sebuah kampus swasta di Jakarta. Menurutnya,
Ismail merupakan sosok yang taat beribadah dan pintar mengaji. "Anaknya
taat beribadah, ngajinya fasih. Dia juga rajin membantu saya di rumah ini,
seperti beres-beres rumah atau menjaga anak saya," kata Basri.
Basari menceritakan sosok aktivis HMI Ismail Ibrahim. Ismail dikenalnya sebagai sosok
yang sederhana. Saking sederhananya, kemeja yang dikenakan Ismail pun selalu
sama dalam setiap kesempatan. Kemeja yang dipakai Ismail itu pun membuat publik
dapat dengan mudah mengenali mahasiswa semester lima ini. Pasalnya foto Ismail
yang terlihat marah di depan Istana Negara memakai kemeja yang sama di berbagai
kesempatan.
Kemeja yang dimaksud Basari bermotif
kotak-kotak diagonal dan berlengan pendek. "Kemeja Ismail yang muncul di
viral media memang itu yang selalu dipakai. Karena dia memang orang yang
sederhana," kata Basari. Senator asal Tidore itu menuturkan, dirinya kerap
memberikan baju kepada Ismail untuk digunakan saat berkuliah. Namun, Ismail
kerap menolak pemberian dari Basari. "Dia itu tidak mudah menerima
pemberian orang lain. Kalau saya tidak paksa pakai baju dari saya, dia tidak
mau memakainya," tutur Basari Salama.
Masih kata Basari, mengenai kemeja yang
dipakai Ismail, menurutnya itu ciri khas dari mahasiswa semester lima itu.
Dikatakannya, setiap habis memakai kemeja tersebut, Ismail selalu mencucinya
untuk dipakai keesokan harinya. "Kalau kemeja itu dipakai, malamnya dicuci
dan besoknya dipakai lagi. Itu yang selalu dilakukan sama Ismail," tutur
Basari Salama.
Kesederhanaan Ismail, kata Basari juga
dapat dilihat kesehariannya saat menjalani perkuliahan. Dikatakannya, ia sudah
menyediakan sepeda motor untuk Ismail berkuliah, namun kendaraan roda dua itu
tidak dipakainya. "Kuliah saja jalan kaki, pergi-pulang jalan kaki. Ada
motor tapi tidak dipakai," ucap Basari Salama.
Lebih jauh Basari mengatakan, semangat
Ismail untuk belajar di Jakarta cukup besar. Ismail mencari uang selama satu
tahun agar bisa menempuh pendidikan di Ibu Kota. "Dia setelah lulus SMA
selama setahun bekerja mencari uang, dan uang itu digunakan untuk kuliah di
Jakarta," kata Basari Salama.
Sementara Universitas Nasional (Unas)
menyerahkan nasib salah satu mahasiswanya, Ismail Ibrahim (23) yang ditangkap
polisi karena diduga biang kerusuhan aksi 4 November, Jumat pekan lalu. Kepala
Bidang Humas Universitas Nasional Dian Metha mengatakan, pihaknya menunggu
proses penyelidikan Polda Metro Jaya terhadap Ismail. "Sikap kampus adalah
melihat dan memantau proses hukum yang berlaku. Apakah memang dia bersalah atau
tidak kita serahkan proses hukum ke aparat," kata Dian di Jakarta, Rabu
(9/11).
Ismail adalah mahasiswa jurusan
Sosiologi Unas, semester lima. Aksinya di 4 November pekan lalu terekam tengah
mengayunkan sebilah bambu ke arah aparat. Ismail ditangkap di kediaman seorang
anggota DPD asal Maluku Utara Basri Salama di Jalan Attahiriyah, Pejaten Barat,
Jakarta Selatan.
Menurut Dian, pihaknya tidak menghalangi
sikap politik setiap mahasiswanya. Namun dia menyarankan mahasiswanya tidak
menggunakan atribut kampus dalam setiap aksi. "Kalau ingin menyalurkan hak
politik, monggo (silahkan), tapi tidak menggunakan atribut kampus," ujar
Dian. "Kelimanya berstatus sebagai tersangka. Sudah dilakukan
penyelidikan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Awi Setiyono
di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa kemarin. (lp6)
