JAKARTA-Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yunus Subagyo Swarinoto mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan lebat di wilayah Indonesia pada 8-11 Oktober 2016. “Dari kondisi dinamika atmoProvinsi-provinsi yang diprediksi akan mengalami hujan lebat itu, antara lain Lampung, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat.
Yunus meminta masyarakat di daerah-daerah ini waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang muncul seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.
Selain itu, bagi pengguna dan operator jasa transportasi laut, nelayan, dan masyarakat yang berlibur ke wilayah pesisir diimbau untuk mewaspadai potensi gelombang laut tinggi. BMKG memprediksi ketinggian gelombang 2,5-4,0 meter di laut Andaman; perairan selatan Jawa, hingga Pulau Sumba; Samudra Indonesia mulai selatan Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara Timur; perairan selatan Kepulauan Tanimbar; dan Laut Arafuru. (tmp)
Promosikan Seni dan Budaya, Makayoa Gelar Festival
LABUHA-Ikatan Pemuda dan Pelajar Mahawiswa Indonesia (IPPMI-Makayoa) akan menggelar festival kesenian dan kebudayaan Makian-Kayoa (Makayoa). Tujuannya, memperkenalkan budaya Makian dan Kayoa secara luas di Nusantara.
Ketua IPMI-Makayoa, Halik A. Rajak mengaku, festival ini merupakan pertama kali digelar, guna mengangkat potensi budaya dan kesenian Makian-Kayoa untuk dikenal nasional dan internasional guna meningkatkan daya tarik wisatawan manca negara dan domestik berkunjung ke Halmahera Selatan.
Menurutnya, festival kesenian dan kebudayaan ini juga didukung Pemda Halmahera Selatan, sehingga kegiatan akan semakin meriah. Lagi pula katanya, Makayoa memiliki seni dan budaya yang bernilai tingggi, jika perlu digali dalam sebuah iven agar dikenal di tingkat nasional. “Kita memiliki adat istiadat, budaya, tarian, bahasa, hasil alam dan juga kuliner yang menjadi identitas daerah. Kalau ini dibiarkan begitu saja, tentu akan merugikan,” katanya, Minggu (9/10).
Menurutnya, ini murni sebuah gagasan dan perjuangan mengangkat identitas Makayoa di tingkat nasional. “Kami memiliki ending yang jelas, yakni festival harus menjadi iven tahunan, agar Makayoa benar-benar dikenal bukan hanya namanya, tapi sebagai sebuah daerah dengan identitas yang jelas. Saya berharap gagasan IPPMI mendapatkan dukungan dan tempat disemua kalangan Makayoa, mulai masyarakat, OKK dan sesupuh Makayoa,” harapnya. (san)