TERNATE-Tragedi kebakaran speadboat Bintang Fajar, Sabtu (15/10), merupakan peristiwa luar bisa sepanjang sejarah angkutan laut Maluku Utara. Speedboat yang berangkat dari Jailolo Halmahera Barat tujuan Ternate dengan mengangkut 41 penumpang itu terbakar di depan Pulau Matui.
Kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba itu, untungnya belum jauh dari pelabuhan Jailolo, sehingga sebagian besar penumpang diselamatkan karena dibantu speedboat lain. Para penumpang yang kaget, tak sempat mengambil bantal renang karena api menjalar terlalu cepat sehingga penumpang menyelamatkan diri dengan meloncat melalui jendela.
Kebakaran diduga berasal dari sebuah mesin yang sedang dihidupkan oleh anak buah kapal dengan cara mencabut selang minyak untuk memancing agar mesin tersebut bisa hidup. Hal itu mengakibatkan percikan api yang merembet hingga bahan bakar cadangan dan menyebabkan dua unit mesin lainnya terbakar dan meledak.
Penumpang menyelamatkan diri dengan keluar dari kapal dan berenang. Kebakaran speedboat dengan 6 mesin itu baru 5 menit keluar dari pelabuhan Jailolo atau sekitar 1 kilometer lebih, sehingga masih terpantau dari pelabuhan. Dalam peristiwa ini, enam orang meninggal dunia dan dua lainnya belum ditemukan. Sementara korban lain yang selamat kini masih dirawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Jailolo. Ironisnya, sesuai informasi terdapat 5 penumpang di luar daftar manifes ditambah 4 ABK sehingga totalnya 50 orang.
Empat korban meninggal yang ditemukan adalah Rosalina Soamole (33), guru TK Pertiwi Desa Gufasa, Nikolaus Tameti (56), kepala sekolah SD Negeri Laba Besar, kecamatan Loloda, Basri Rajaki (87), warga Kalumpang Ternate dan Yamin Muklis (40), Ketua Bidang Hukum dan HAM Golkar Kota Ternate beralamat di Desa Susupu, Kecamatan Sahu.
Sedangkan dua korban meninggal yang baru ditemukan Minggu (16/10) yakni Aditia Husada, pegawai bank BNI Syariah Ternate dan seorang anak berusia 6 tahun, Junain. Sisa dua korban kini masih dalam pencarian tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI AL, KPLP dan Polair Polda dibantu masyarakat serta diback up tim penyelam.
Insiden kebakaran terjadi di perairan laut Ternate-Jailolo atau sekitar 10 mil atau kurang lebih sekitar 18,5 kilometer dari Pulau Ternate. Saat kebakaran, cuaca laut dilaporkan cerah dan tidak bergelombang. Sebab itu aparat kepolisian menduga, kecelakaan tersebut murni faktor teknis. Meski demikian masih membutuhkan penyeliikan lebih lanjut untuk mengungkap sebab musabab peristiwa ini.
Direktur RSUD Jailolo Safrullah Radjilun mengungkapkan, empat korban yang meninggal itu tiga diantaranya disebabkan aspisasi air yang berlebihan di paru-patu dan satu orang karena terbakar. Dengan kejadian ini, Bupati Danny Missy menegaskan akan turun mengkroschek speadboat lintas Jailolo-Ternate untuk mengecek kalikan speadboat, baik mesin maupun bodi. Jika ditemukan ada yang tak laik berlayar akan dihentikan operasinya agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Selain itu, Pemda Halmahera Barat menyatakan akan menanggung seluruh biaya perawatan korban kebakaran speedboat, baik luka ringan maupu berat. "Semua biaya perawatan korban ditanggung pemerintah," kata bupati Danny Missy, usai menjenguk korban di RSUD Jailolo.
Sementara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise saat itu masih berada di Jailolo menyampaikan bela sungkawa terhadap para korban terbakarnya speedboat di perairan Desa Matui. "Atas nama Presiden dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kami mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas peristiwa yang terjadi di perairan Jailolo," kata Menteri Yohana.
Menteri menyatakan telah menjenguk ke rumah sakit untuk melihat kondisi beberapa korban tewas dan mengalami luka bakar. "Saya sempat menengok ke RSU untuk melihat kondisi jenazah. Sedih sekali. Bahkan ada bayi yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Semoga Tuhan memberikannya kekuatan," ujarnya.
Menteri Yohana menyatakan tak tega melihat kondisi anak bayi berusia 8 bulan menjadi korban lakalaut. Bayi mungil tersebut diketahui bernama Muhammad Alfatih yang sedang koma di RSUD, dikunjungi khusus oleh Menteri. Ia saat melihat bayi yang tak berdaya sempat menetskan air mata tak kuasa menahan kesedian terhadap derita dialami bayi itu.
Beberapa ruangan dikunjungi untuk membesuk korban yakni ruang IGD menjenguk korban meninggal, ruang ICU meninjau korban bayi yang masih koma dan ruang wanita unuk menjenguk korban lainnya. Menteri juga memberikan bantuan berupa satu amplop kepada Ny. Mulyati (31) yang bayinya masih berusia 8 bulan di rawat di ruang ICU. “Iya saya diberikan amplop tapi belum tahu apa isinya,” katanya. Seraya mengatakan, ia dipesan Menteri untuk tetap sabar dan banyak berdoa. Terlepas dari itu, kasus ini perlu diusut agar diketahui, apakah faktor teknis atau kelalaian. (tim)
Kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba itu, untungnya belum jauh dari pelabuhan Jailolo, sehingga sebagian besar penumpang diselamatkan karena dibantu speedboat lain. Para penumpang yang kaget, tak sempat mengambil bantal renang karena api menjalar terlalu cepat sehingga penumpang menyelamatkan diri dengan meloncat melalui jendela.
Kebakaran diduga berasal dari sebuah mesin yang sedang dihidupkan oleh anak buah kapal dengan cara mencabut selang minyak untuk memancing agar mesin tersebut bisa hidup. Hal itu mengakibatkan percikan api yang merembet hingga bahan bakar cadangan dan menyebabkan dua unit mesin lainnya terbakar dan meledak.
Penumpang menyelamatkan diri dengan keluar dari kapal dan berenang. Kebakaran speedboat dengan 6 mesin itu baru 5 menit keluar dari pelabuhan Jailolo atau sekitar 1 kilometer lebih, sehingga masih terpantau dari pelabuhan. Dalam peristiwa ini, enam orang meninggal dunia dan dua lainnya belum ditemukan. Sementara korban lain yang selamat kini masih dirawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Jailolo. Ironisnya, sesuai informasi terdapat 5 penumpang di luar daftar manifes ditambah 4 ABK sehingga totalnya 50 orang.
Empat korban meninggal yang ditemukan adalah Rosalina Soamole (33), guru TK Pertiwi Desa Gufasa, Nikolaus Tameti (56), kepala sekolah SD Negeri Laba Besar, kecamatan Loloda, Basri Rajaki (87), warga Kalumpang Ternate dan Yamin Muklis (40), Ketua Bidang Hukum dan HAM Golkar Kota Ternate beralamat di Desa Susupu, Kecamatan Sahu.
Sedangkan dua korban meninggal yang baru ditemukan Minggu (16/10) yakni Aditia Husada, pegawai bank BNI Syariah Ternate dan seorang anak berusia 6 tahun, Junain. Sisa dua korban kini masih dalam pencarian tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI AL, KPLP dan Polair Polda dibantu masyarakat serta diback up tim penyelam.
Insiden kebakaran terjadi di perairan laut Ternate-Jailolo atau sekitar 10 mil atau kurang lebih sekitar 18,5 kilometer dari Pulau Ternate. Saat kebakaran, cuaca laut dilaporkan cerah dan tidak bergelombang. Sebab itu aparat kepolisian menduga, kecelakaan tersebut murni faktor teknis. Meski demikian masih membutuhkan penyeliikan lebih lanjut untuk mengungkap sebab musabab peristiwa ini.
Direktur RSUD Jailolo Safrullah Radjilun mengungkapkan, empat korban yang meninggal itu tiga diantaranya disebabkan aspisasi air yang berlebihan di paru-patu dan satu orang karena terbakar. Dengan kejadian ini, Bupati Danny Missy menegaskan akan turun mengkroschek speadboat lintas Jailolo-Ternate untuk mengecek kalikan speadboat, baik mesin maupun bodi. Jika ditemukan ada yang tak laik berlayar akan dihentikan operasinya agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Selain itu, Pemda Halmahera Barat menyatakan akan menanggung seluruh biaya perawatan korban kebakaran speedboat, baik luka ringan maupu berat. "Semua biaya perawatan korban ditanggung pemerintah," kata bupati Danny Missy, usai menjenguk korban di RSUD Jailolo.
Sementara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise saat itu masih berada di Jailolo menyampaikan bela sungkawa terhadap para korban terbakarnya speedboat di perairan Desa Matui. "Atas nama Presiden dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kami mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas peristiwa yang terjadi di perairan Jailolo," kata Menteri Yohana.
Menteri menyatakan telah menjenguk ke rumah sakit untuk melihat kondisi beberapa korban tewas dan mengalami luka bakar. "Saya sempat menengok ke RSU untuk melihat kondisi jenazah. Sedih sekali. Bahkan ada bayi yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Semoga Tuhan memberikannya kekuatan," ujarnya.
Menteri Yohana menyatakan tak tega melihat kondisi anak bayi berusia 8 bulan menjadi korban lakalaut. Bayi mungil tersebut diketahui bernama Muhammad Alfatih yang sedang koma di RSUD, dikunjungi khusus oleh Menteri. Ia saat melihat bayi yang tak berdaya sempat menetskan air mata tak kuasa menahan kesedian terhadap derita dialami bayi itu.
Beberapa ruangan dikunjungi untuk membesuk korban yakni ruang IGD menjenguk korban meninggal, ruang ICU meninjau korban bayi yang masih koma dan ruang wanita unuk menjenguk korban lainnya. Menteri juga memberikan bantuan berupa satu amplop kepada Ny. Mulyati (31) yang bayinya masih berusia 8 bulan di rawat di ruang ICU. “Iya saya diberikan amplop tapi belum tahu apa isinya,” katanya. Seraya mengatakan, ia dipesan Menteri untuk tetap sabar dan banyak berdoa. Terlepas dari itu, kasus ini perlu diusut agar diketahui, apakah faktor teknis atau kelalaian. (tim)
