JAKARTA-Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas
Lembong menyebut, Indonesia paling cepat bergabung dalam Trans Pasific
Partnership (TPP) pada 2019. Saat ini masih dilakukan pengkajian terhadap draf
TPP yang baru terbit pada 5 November 2015 lalu, agar persyaratan perjanjian
dagang tersebut bisa terpenuhi, pun tidak berbenturan dengan kepentingan
nasional.
"Paling
cepat tiga tahun dari sekarang, kita masih kaji draf yang tebalnya sampai enam
ribu halaman," kata dia pada Opening Remark yang diselenggarakan Pusat
Data Bisnis Indonesia (PDBI) bertajuk "What is TPP and Why Indonesia
Business Should Know" di Jakarta, Selasa (24/11).
Secara
paralel, pemerintah juga tengah mengurus kemitraan dagang dengan Uni Eropa yang
diprediksi akan siap dimulai pada awal 2018. Menyoal kemitraan dengan Uni
Eropa, ia menjelaskan penjalinan relasi dagang tersebut telah dimulai sejak
zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun sempat terputus karena momentum
pemilihan umum.
Pengurusan
kemitraan dagang dengan Uni Eropa pun berlanjut di masa Presiden Joko Widodo di
mana persyaratan telah terpenuhi sekitar 60-70 persen. "Pada 2016-2017
akan masuk masa berunding, awal 2018 harus sudah masuk dengan Uni Eropa,"
ujar Lembong.
Menyoal
TPP, minat keikutsertaan Indonesia bagi dia merupakan bukti langkah percaya
diri atas kemampuan pemerintah bersanding dengan negara-negara maju. Perubahan
dunia global semakin cepat dan penuh kejutan dan Indonesia harus bisa dinamis
ikut serta dalam perubahan tersebut agar tidak ketinggalan dengan negara lain.
(rol)
